sinergi software erp

Mesin mengalami kerusakan. Teknisi sudah menemukan penyebabnya dan perbaikan sebenarnya hanya membutuhkan satu komponen.

Masalahnya, spare part yang dibutuhkan ternyata tidak tersedia di gudang.

Akibatnya, mesin harus menunggu sampai spare part datang. Pekerjaan maintenance yang seharusnya dapat selesai dalam beberapa jam berubah menjadi downtime berhari-hari.

Sebaliknya, menyimpan terlalu banyak spare part juga bukan solusi. Stok berlebihan akan mengikat modal, memenuhi ruang penyimpanan, dan berisiko menjadi obsolete sebelum digunakan.

Karena itu, perusahaan membutuhkan spare part management yang baik.

Apa Itu Spare Part Management?

Spare part management adalah proses mengelola kebutuhan, persediaan, penggunaan, dan ketersediaan suku cadang yang digunakan untuk aktivitas maintenance.

Tujuannya sederhana:

spare part yang tepat tersedia ketika dibutuhkan, dalam jumlah yang sesuai.

Namun dalam praktiknya, pengelolaan spare part dapat menjadi kompleks ketika perusahaan memiliki:

  • ratusan atau ribuan equipment;

  • banyak jenis spare part;

  • beberapa warehouse;

  • banyak teknisi;

  • beberapa site;

  • frekuensi maintenance yang tinggi.

Tanpa sistem yang baik, perusahaan dapat mengalami dua kondisi ekstrem:

stockout atau overstock.

Keduanya sama-sama memiliki dampak terhadap operasional dan biaya.

Mengapa Spare Part Sangat Penting dalam Maintenance?

Kecepatan maintenance tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknisi.

Ketersediaan spare part juga sangat berpengaruh.

Misalnya sebuah conveyor berhenti karena bearing rusak.

Teknisi dapat menemukan penyebab masalah dalam 30 menit.

Penggantian bearing mungkin hanya membutuhkan satu jam.

Namun jika bearing tidak tersedia, equipment tetap tidak dapat beroperasi.

Artinya, waktu perbaikan teknis mungkin hanya 1,5 jam, tetapi downtime aktual dapat menjadi jauh lebih panjang karena menunggu spare part.

Karena itu, pengelolaan spare part merupakan bagian penting dari maintenance management.

Masalah yang Sering Terjadi dalam Pengelolaan Spare Part

1. Spare Part Habis Ketika Dibutuhkan

Ini adalah salah satu masalah paling umum.

Sistem menunjukkan stok tersedia, tetapi ketika teknisi datang ke gudang ternyata barang sudah habis.

Hal tersebut dapat terjadi karena transaksi penggunaan tidak tercatat secara konsisten.

2. Terlalu Banyak Stok

Untuk menghindari kehabisan barang, perusahaan terkadang menyimpan spare part dalam jumlah terlalu banyak.

Masalahnya, tidak semua spare part sering digunakan.

Akibatnya, modal tertahan dalam inventory yang jarang bergerak.

3. Spare Part Tidak Diketahui Digunakan untuk Apa

Teknisi mengambil bearing, seal, belt, atau komponen lain.

Namun penggunaan tersebut tidak dikaitkan dengan equipment atau work order tertentu.

Akhirnya perusahaan hanya mengetahui:

stok berkurang.

Tetapi tidak mengetahui:

spare part tersebut digunakan untuk mesin apa dan pekerjaan apa.

4. Data Stok Tidak Sesuai Kondisi Aktual

Di sistem tercatat 10 unit.

Ketika dilakukan pengecekan fisik ternyata hanya tersisa 6.

Perbedaan tersebut membuat tim maintenance tidak dapat mengandalkan informasi inventory ketika membutuhkan spare part.

5. Sulit Mengetahui Spare Part yang Sering Digunakan

Tanpa histori penggunaan, perusahaan kesulitan mengetahui:

  • spare part yang fast moving;

  • spare part yang jarang digunakan;

  • komponen yang sering rusak;

  • equipment yang mengonsumsi banyak spare part.

Padahal informasi tersebut dapat membantu perencanaan inventory.

Stockout Spare Part Bisa Memperpanjang Downtime

Bayangkan sebuah mesin produksi mengalami breakdown pukul 08.00.

Teknisi melakukan diagnosis dan pada pukul 09.00 menemukan bahwa bearing harus diganti.

Waktu penggantian bearing:

2 jam.

Namun bearing tidak tersedia.

Purchasing kemudian melakukan pembelian dan barang baru tiba keesokan harinya pukul 13.00.

Secara teknis pekerjaan hanya membutuhkan sekitar dua jam.

Tetapi mesin dapat berhenti lebih dari satu hari karena menunggu spare part.

Dalam kasus seperti ini, penyebab downtime panjang bukan kemampuan teknisi.

Masalahnya adalah availability spare part.

Overstock Juga Menjadi Masalah

Jika stockout menyebabkan downtime, apakah solusinya menyimpan semua spare part sebanyak mungkin?

Tidak.

Overstock juga memiliki konsekuensi.

Perusahaan harus mengeluarkan modal untuk membeli inventory yang belum tentu segera digunakan.

Selain itu, beberapa spare part dapat:

  • mengalami korosi;

  • rusak selama penyimpanan;

  • memiliki umur penyimpanan;

  • menjadi obsolete;

  • tidak lagi digunakan karena equipment sudah diganti.

Karena itu, tujuan spare part management bukan memiliki stok sebanyak mungkin.

Tujuannya adalah memiliki stok yang sesuai dengan kebutuhan dan risiko operasional.

Tidak Semua Spare Part Memiliki Prioritas yang Sama

Salah satu kesalahan dalam inventory maintenance adalah memperlakukan seluruh spare part dengan cara yang sama.

Padahal karakteristik setiap komponen berbeda.

Critical Spare Part

Komponen yang kegagalannya dapat menghentikan equipment kritikal dan sulit diperoleh dengan cepat.

Komponen seperti ini biasanya membutuhkan perhatian khusus terhadap safety stock.

Fast-Moving Spare Part

Spare part yang sering digunakan.

Contohnya dapat berupa:

  • filter;

  • belt;

  • bearing tertentu;

  • seal;

  • lubricant;

  • fuse.

Slow-Moving Spare Part

Spare part yang jarang digunakan tetapi tetap diperlukan untuk kondisi tertentu.

Consumable

Material yang digunakan secara rutin dalam aktivitas maintenance.

Contohnya lubricant, cleaning material, atau material pendukung lainnya.

Klasifikasi membantu perusahaan menentukan strategi inventory yang berbeda untuk setiap jenis spare part.

Apa Itu Minimum Stock?

Minimum stock adalah jumlah minimum persediaan yang ingin dipertahankan agar risiko kehabisan barang dapat dikurangi.

Misalnya:

Bearing 6205

Current Stock: 12

Minimum Stock: 5

Ketika stok mendekati atau berada di bawah batas minimum, perusahaan dapat mulai melakukan proses replenishment.

Penentuan minimum stock tidak sebaiknya dilakukan secara sembarangan.

Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan antara lain:

  • rata-rata penggunaan;

  • lead time supplier;

  • tingkat kritikal spare part;

  • kemungkinan kerusakan equipment;

  • jumlah equipment yang menggunakan komponen tersebut.

Apa Itu Reorder Point?

Konsep lain yang umum digunakan adalah reorder point.

Reorder point merupakan level persediaan ketika perusahaan perlu mulai melakukan pemesanan kembali.

Secara sederhana, perusahaan perlu mempertimbangkan konsumsi spare part selama waktu tunggu supplier dan safety stock.

Contohnya:

  • Sebuah filter digunakan rata-rata 10 unit per bulan.
  • Supplier membutuhkan waktu dua minggu untuk mengirim barang.
  • Perusahaan perlu memastikan proses pemesanan dilakukan sebelum stok benar-benar habis.

Dengan demikian, barang baru dapat tiba sebelum inventory mencapai kondisi kritis.

Hubungkan Spare Part dengan Equipment

Pengelolaan spare part akan lebih berguna ketika perusahaan mengetahui hubungan antara spare part dan equipment.

Contohnya:

Bearing 6205

Digunakan oleh:

  • Motor M-001

  • Motor M-002

  • Pump P-005

  • Conveyor CV-003

Dengan informasi tersebut, tim maintenance dapat mengetahui equipment mana yang terdampak apabila stok bearing tersebut habis.

Hubungan ini juga membantu dalam perencanaan spare part untuk equipment kritikal.

Hubungkan Spare Part dengan Work Order

Ketika teknisi menggunakan spare part, penggunaannya sebaiknya dicatat pada work order.

Contohnya:

Work Order: WO-2026-00521

Equipment: Pump P-101

Problem: Leakage

Action: Mechanical seal replacement

Spare Part: Mechanical Seal MS-220

Quantity: 1

Dengan pencatatan tersebut, perusahaan mengetahui dengan jelas ke mana spare part digunakan.

Histori equipment kemudian juga dapat menunjukkan bahwa mechanical seal pernah diganti pada tanggal tertentu.

Dari Penggunaan Spare Part ke Analisis Kerusakan

Data penggunaan spare part tidak hanya berguna untuk inventory.

Data tersebut juga dapat memberikan informasi mengenai reliability equipment.

Misalnya satu pompa menggunakan mechanical seal:

Januari → 1 seal

Maret → 1 seal

Mei → 1 seal

Juli → 1 seal

Jika seal seharusnya memiliki masa penggunaan yang jauh lebih panjang, frekuensi penggantian tersebut dapat menjadi sinyal adanya masalah lain.

Tim maintenance dapat melakukan investigasi terhadap:

  • alignment;

  • pressure;

  • vibration;

  • installation;

  • kualitas spare part;

  • kondisi operasi.

Dengan demikian, data spare part dapat membantu menemukan pola kerusakan.

Spare Part Management dan Preventive Maintenance

Preventive maintenance juga membutuhkan spare part.

Misalnya jadwal maintenance bulan depan membutuhkan:

  • 20 oil filter;

  • 10 air filter;

  • 15 liter lubricant;

  • 8 belt.

Jika kebutuhan tersebut sudah diketahui dari jadwal preventive maintenance, tim dapat mempersiapkan material sebelum pekerjaan dimulai.

Hal ini membuat proses maintenance lebih terencana.

Bukan:

Work order dibuat → teknisi datang → spare part ternyata tidak tersedia.

Tetapi:

Schedule → Work Order → Spare Part Preparation → Maintenance Execution.

Spare Part Management dan Maintenance History

Setiap penggunaan spare part sebaiknya menjadi bagian dari histori equipment.

Misalnya:

Equipment: Compressor C-01

TanggalWork OrderSpare PartQty
10 JanWO-0012Air Filter1
15 MarWO-0089Drive Belt2
20 JunWO-0172Bearing1
5 SepWO-0291Drive Belt2

Dari histori tersebut, perusahaan dapat mengetahui komponen apa yang sering diganti.

Informasi ini berguna untuk maintenance planning maupun inventory planning.

Mengapa Spreadsheet Mulai Sulit Digunakan?

Spreadsheet dapat digunakan untuk mengelola stok spare part dalam skala kecil.

Namun ketika aktivitas meningkat, perusahaan perlu menghubungkan banyak informasi:

Spare Part

↓

Warehouse

↓

Stock

↓

Equipment

↓

Work Order

↓

Technician

↓

Maintenance History

Jika masing-masing data berada pada spreadsheet berbeda, tim harus melakukan rekonsiliasi secara manual.

Risiko perbedaan data juga meningkat.

Peran Software CMMS dalam Spare Part Management

CMMS (Computerized Maintenance Management System) membantu menghubungkan aktivitas maintenance dengan data equipment dan material yang digunakan.

Ketika spare part digunakan untuk sebuah pekerjaan, transaksi tersebut dapat dikaitkan dengan work order dan equipment.

Dengan demikian perusahaan dapat memiliki visibilitas lebih baik mengenai:

  • spare part yang digunakan;

  • jumlah penggunaan;

  • equipment pengguna;

  • pekerjaan terkait;

  • histori penggunaan;

  • kebutuhan maintenance.

CMMS membuat data inventory maintenance tidak berdiri sendiri.

Data tersebut menjadi bagian dari proses maintenance secara keseluruhan.

Venus CMMS untuk Maintenance yang Terintegrasi

Venus CMMS membantu perusahaan mengelola aktivitas maintenance melalui sistem yang terintegrasi.

Data equipment, PIC, preventive maintenance, work order, transaksi maintenance, dan histori pekerjaan dapat dikelola secara lebih terstruktur.

Dengan menghubungkan aktivitas maintenance dan penggunaan spare part, perusahaan dapat memperoleh informasi yang lebih jelas mengenai kebutuhan maintenance equipment.

Tim maintenance dapat mengetahui pekerjaan yang harus dilakukan.

Supervisor dapat memonitor progres pekerjaan.

Sedangkan histori equipment memberikan informasi mengenai pekerjaan dan komponen yang pernah digunakan sebelumnya.

Dari “Ada atau Tidak Ada Stok” Menjadi Maintenance Planning

Spare part management yang baik tidak hanya menjawab:

“Stok bearing masih ada?”

Sistem maintenance yang lebih matang seharusnya membantu perusahaan menjawab:

Bearing digunakan untuk equipment apa?

Berapa rata-rata pemakaiannya?

Equipment mana yang paling sering mengganti bearing?

Berapa stok yang tersedia?

Kapan harus melakukan reorder?

Apakah preventive maintenance berikutnya membutuhkan bearing tersebut?

Apakah frekuensi penggantian komponen masih normal?

Ketika data maintenance dan inventory saling terhubung, perusahaan dapat membuat keputusan yang lebih baik.

Kesimpulan

Spare part management adalah bagian penting dari maintenance management.

Ketersediaan spare part yang buruk dapat membuat downtime jauh lebih lama meskipun proses perbaikannya sederhana.

Namun menyimpan terlalu banyak spare part juga dapat meningkatkan inventory cost dan mengikat modal perusahaan.

Karena itu, perusahaan perlu mengelola spare part berdasarkan kebutuhan, tingkat kritikal, histori penggunaan, dan rencana maintenance.

Yang tidak kalah penting adalah menghubungkan penggunaan spare part dengan equipment dan work order.

Dengan software CMMS, perusahaan dapat membangun proses maintenance yang lebih terstruktur dengan data equipment, pekerjaan, PIC, histori, dan penggunaan material yang saling terhubung.

Masih sulit mengetahui spare part digunakan untuk mesin dan pekerjaan apa?

Hubungi PT Sinergi Teknologi Solusindo untuk konsultasi dan demo Venus CMMS.

manfaat software cmms untuk perusahaan di bidang manufaktur

Penawaran Terbaik Venus CMMS

Hubungi kami untuk penawaran terbaik dan dapatkan gratis demo dan konsultasi!
Baca artikel lainnya :