sinergi software erp

Harga barang dari supplier tidak selalu sama dari waktu ke waktu.

Ada perubahan harga bahan baku.

Ada kenaikan biaya logistik.

Ada perubahan kurs.

Ada perubahan quantity pembelian.

Ada diskon yang berbeda.

Bahkan dalam satu transaksi, harga yang tercantum pada Purchase Order bisa berbeda dengan harga pada invoice supplier.

Jika selisih seperti ini tidak dikontrol, perusahaan dapat mengalami masalah pada:

  • biaya pembelian

  • nilai inventory

  • HPP

  • budget purchasing

  • Account Payable

  • margin produk

  • laporan keuangan

Karena itu, perusahaan perlu memahami dan mengontrol Purchase Price Variance atau PPV.

Dengan ERP, perbedaan harga dapat ditelusuri dari transaksi purchasing sampai dampaknya ke inventory dan accounting.


Apa Itu Purchase Price Variance?

Purchase Price Variance atau PPV adalah selisih antara harga pembelian aktual dengan harga standar, harga referensi, atau harga yang sebelumnya direncanakan.

Contohnya:

Standard Price:

Rp100.000 per unit.

Actual Purchase Price:

Rp110.000 per unit.

Quantity:

1.000 unit.

Maka terdapat variance:

Rp10.000 × 1.000

=

Rp10.000.000

Artinya perusahaan membeli dengan harga Rp10 juta lebih tinggi dibandingkan harga referensi.


Rumus Sederhana Purchase Price Variance

Secara sederhana:

PPV = (Actual Price – Standard Price) × Quantity

Contoh:

Standard Price:

Rp50.000

Actual Price:

Rp47.000

Quantity:

2.000 unit

PPV:

(Rp47.000 – Rp50.000) × 2.000

=

-Rp6.000.000

Variance negatif pada contoh tersebut menunjukkan actual purchase price lebih rendah dari harga standar.

Namun, interpretasi favourable atau unfavourable perlu mengikuti metode reporting perusahaan.


Mengapa Purchase Price Variance Penting?

PPV membantu perusahaan menjawab beberapa pertanyaan penting.

Apakah purchasing membeli dengan harga sesuai target?

Apakah harga supplier mengalami kenaikan?

Apakah cost produk berubah?

Apakah budget purchasing masih sesuai?

Apakah margin produk berpotensi turun?

Tanpa monitoring variance, perusahaan mungkin baru menyadari kenaikan cost setelah laporan keuangan selesai.


Purchase Order Belum Tentu Menjadi Harga Akhir

Misalnya purchasing membuat PO:

100 unit × Rp1.000.000

Total:

Rp100.000.000.

Supplier kemudian mengirim invoice:

100 unit × Rp1.050.000

Total:

Rp105.000.000.

Terdapat selisih:

Rp5.000.000

Pertanyaannya:

Apakah invoice boleh langsung diproses?

Idealnya, perusahaan perlu memeriksa penyebab perbedaan.


Kenapa Harga Supplier Bisa Berubah?

Ada banyak penyebab.

Perubahan Harga Bahan Baku

Supplier mengalami kenaikan biaya produksi.


Perubahan Kurs

Untuk barang impor atau transaksi berbasis mata uang asing, perubahan exchange rate dapat memengaruhi harga.


Perubahan Quantity

Harga awal mungkin berdasarkan quantity tertentu.

Ketika quantity berubah, discount level juga berubah.


Biaya Tambahan

Supplier menambahkan freight, surcharge, handling, atau komponen lain.


Harga PO Sudah tidak Berlaku

Purchase Order dibuat berdasarkan quotation lama.


Kesalahan Input

Harga pada PO atau invoice bisa salah input.

Karena itu, selisih tidak boleh langsung dianggap wajar.


Contoh Purchase Price Variance

Misalnya perusahaan membeli raw material.

Standard Price:

Rp25.000/kg.

Purchase Order:

10.000 kg.

Actual Price:

Rp27.000/kg.

Variance per kg:

Rp2.000.

Total variance:

Rp20.000.000

Jika material tersebut digunakan untuk production, kenaikan tersebut dapat memengaruhi cost produk.


Dampak PPV ke HPP

Misalnya satu produk membutuhkan:

2 kg material.

Standard material cost:

2 × Rp25.000

=

Rp50.000.

Actual price naik menjadi:

Rp27.000/kg.

Actual material cost:

Rp54.000.

Selisih:

Rp4.000 per unit.

Jika perusahaan menjual:

100.000 unit,

potensi tambahan cost:

Rp400.000.000

Perubahan kecil pada unit price dapat menghasilkan dampak besar ketika volume pembelian tinggi.


PPV dan Gross Margin

Misalnya harga jual produk tetap:

Rp100.000.

Standard HPP:

Rp70.000.

Gross Margin:

Rp30.000.

Setelah material cost naik, actual HPP menjadi:

Rp76.000.

Gross Margin turun menjadi:

Rp24.000.

Jika sales masih menggunakan cost lama, margin yang terlihat pada awal transaksi dapat berbeda dengan margin aktual.

Karena itu, purchasing dan costing perlu terhubung.


Purchase Price Variance dan Budget

PPV juga dapat memengaruhi budget purchasing.

Contohnya:

Budget pembelian:

Rp5 miliar.

Actual berdasarkan harga lama:

Rp5 miliar.

Tetapi karena kenaikan supplier sebesar 5%, actual cost menjadi:

Rp5,25 miliar.

Terdapat additional cost:

Rp250 juta.

Jika variance tidak dimonitor secara rutin, budget overrun baru diketahui terlambat.


PPV dan Supplier Performance

Supplier evaluation tidak hanya melihat:

  • on-time delivery

  • quality

  • service

Tetapi juga price consistency.

Contohnya:

Supplier A sering memberikan harga awal murah, tetapi invoice akhir sering berbeda.

Supplier B sedikit lebih mahal tetapi harganya konsisten.

Dalam jangka panjang, supplier B mungkin lebih mudah dikontrol.

PPV dapat menjadi salah satu indikator dalam evaluasi supplier.


Purchase Order sebagai Baseline

Purchase Order dapat menjadi salah satu baseline untuk membandingkan harga.

Contohnya:

PO Price:

Rp100.000.

Invoice Price:

Rp105.000.

Variance:

Rp5.000.

ERP dapat membantu menunjukkan bahwa invoice berbeda dari PO.

Selanjutnya perusahaan menentukan apakah variance tersebut:

  • diperbolehkan

  • membutuhkan approval

  • harus dikoreksi

  • harus dikembalikan ke supplier


Apa Itu Price Tolerance?

Price Tolerance adalah batas perbedaan harga yang masih diperbolehkan tanpa approval tambahan.

Contohnya:

Tolerance:

2%.

PO Price:

Rp100.000.

Invoice Price:

Rp101.000.

Variance:

1%.

Masih dalam tolerance.

Namun jika invoice:

Rp105.000,

variance:

5%.

Sistem dapat memberikan warning atau membutuhkan approval.


Kenapa Price Tolerance Penting?

Tanpa tolerance, setiap perubahan harga kecil dapat menghambat proses.

Sebaliknya, jika tidak ada kontrol sama sekali, invoice dengan perbedaan besar dapat lolos.

Price tolerance membantu perusahaan menyeimbangkan:

  • operational efficiency

  • purchasing control

  • financial control

Besarnya tolerance harus mengikuti kebijakan perusahaan.


Quantity Variance dan Price Variance Berbeda

Perusahaan juga perlu membedakan dua jenis variance.

Price Variance

Harga berbeda.

Contoh:

PO:

100 unit × Rp10.000.

Invoice:

100 unit × Rp11.000.

Masalah ada di harga.


Quantity Variance

Quantity berbeda.

PO:

100 unit.

Goods Receipt:

90 unit.

Invoice:

100 unit.

Masalah ada di quantity.

Keduanya membutuhkan jenis pengecekan yang berbeda.


Three-Way Matching untuk Mengontrol Variance

Salah satu metode kontrol purchasing adalah Three-Way Matching.

Perusahaan mencocokkan:

Purchase Order

↓

Goods Receipt

↓

Supplier Invoice

Contohnya:

Purchase Order:

100 unit × Rp100.000.

Goods Receipt:

100 unit.

Supplier Invoice:

100 unit × Rp100.000.

Semua sesuai.

Jika invoice menunjukkan:

100 unit × Rp110.000,

sistem dapat mendeteksi price variance.


Contoh Masalah Tanpa Three-Way Matching

Purchasing membuat:

PO Rp100 juta.

Warehouse menerima barang.

Supplier mengirim invoice:

Rp115 juta.

Finance hanya melihat invoice dan langsung membayar.

Perusahaan akhirnya membayar Rp15 juta lebih tinggi tanpa verifikasi.

Jika PO, Goods Receipt, dan Invoice saling terhubung, perbedaan lebih mudah terdeteksi.


PPV dan Goods Receipt

Harga juga dapat memiliki hubungan dengan goods receipt.

Misalnya perusahaan menggunakan accrual atau provisional valuation saat barang diterima.

Kemudian invoice aktual datang dengan harga berbeda.

Sistem perlu menentukan bagaimana perbedaan tersebut diperlakukan.

Treatment-nya bergantung pada konfigurasi costing dan accounting perusahaan.


PPV dan Inventory Valuation

Jika actual purchase price berbeda dari harga sebelumnya, nilai inventory dapat terpengaruh.

Contohnya:

Barang yang dibeli masih berada di warehouse.

Actual cost naik.

Maka inventory valuation dapat berubah sesuai metode costing yang digunakan.

Jika sebagian barang sudah terjual, variance juga dapat berpengaruh pada HPP atau akun variance sesuai konfigurasi.


PPV dan Average Cost

Dalam metode average cost, purchase dengan harga baru dapat mengubah average inventory cost.

Contohnya:

Existing Stock:

100 unit × Rp100.000.

Value:

Rp10.000.000.

Purchase baru:

100 unit × Rp120.000.

Value:

Rp12.000.000.

Total:

200 unit.

Total value:

Rp22.000.000.

Average cost:

Rp110.000 per unit

Kenaikan harga purchase memengaruhi cost seluruh inventory secara rata-rata.


PPV dan Standard Cost

Pada perusahaan yang menggunakan standard cost, actual purchase price dapat dibandingkan langsung dengan standard.

Contohnya:

Standard:

Rp100.000.

Actual:

Rp115.000.

Variance:

Rp15.000.

Variance tersebut dapat dianalisis sebagai bagian dari purchasing atau cost variance.


PPV dan Foreign Currency

Pembelian import menambah kompleksitas.

Misalnya PO dibuat saat kurs:

USD 1 = Rp15.000.

Supplier price:

USD 10.

Equivalent:

Rp150.000.

Ketika invoice diterima, kurs berubah menjadi:

Rp15.500.

Equivalent:

Rp155.000.

Ada perbedaan Rp5.000.

Namun perusahaan harus membedakan:

  • purchase price variance

  • exchange rate variance

Keduanya memiliki penyebab dan treatment accounting yang berbeda.


PPV dan Landed Cost

Purchase Price Variance juga sebaiknya tidak dicampur dengan landed cost.

Harga supplier:

Rp100.000.

Freight:

Rp10.000.

Actual landed cost:

Rp110.000.

Freight bukan selalu price variance terhadap supplier.

Itu merupakan additional cost yang membentuk landed cost.

Karena itu, sistem perlu memisahkan:

Purchase Price

dan

Additional Acquisition Cost

agar analisis tetap jelas.


PPV dan Negotiation Purchasing

Data PPV dapat digunakan sebagai bahan negosiasi supplier.

Contohnya:

Selama enam bulan:

Harga standard:

Rp100.000.

Actual rata-rata:

Rp108.000.

Total pembelian:

50.000 unit.

Total variance:

Rp400 juta.

Purchasing sekarang memiliki data konkret untuk melakukan evaluasi dan negosiasi.


PPV dan Historical Price

ERP dapat menyimpan histori pembelian.

Contohnya:

BulanSupplierHarga
JanuariSupplier ARp100.000
FebruariSupplier ARp102.000
MaretSupplier ARp105.000
AprilSupplier ARp108.000

Dari data ini purchasing dapat melihat tren kenaikan harga.

Jika hanya mengandalkan PO terakhir, pola jangka panjang sulit terlihat.


Historical Price Membantu Purchase Decision

Ketika supplier memberikan quotation baru:

Rp115.000,

purchasing dapat melihat:

Harga terakhir:

Rp108.000.

Rata-rata 6 bulan:

Rp104.000.

Kenaikan quotation:

lebih dari 10%.

Informasi tersebut memberikan dasar yang lebih kuat untuk negosiasi.


PPV dan Supplier Comparison

Misalnya ada dua supplier.

Supplier A

Harga:

Rp100.000.

Variance sering tinggi.

Delivery tepat waktu.

Supplier B

Harga:

Rp103.000.

Variance hampir tidak ada.

Delivery tepat waktu.

Jika hanya melihat harga awal, Supplier A terlihat lebih murah.

Tetapi jika actual invoice sering berubah, total cost perlu dianalisis lebih lanjut.


PPV dan Approval Workflow

Perusahaan dapat membuat approval berdasarkan variance.

Contohnya:

Variance ≤ 2%:

Dapat diproses.

Variance 2–5%:

Purchasing Manager approval.

Variance >5%:

Finance Manager + Director approval.

Workflow sebenarnya mengikuti kebijakan perusahaan.

Dengan ERP, control dapat diterapkan berdasarkan rule.


Kenapa Approval Price Variance Penting?

Jika user bebas menerima invoice dengan harga berbeda tanpa review, purchasing control menjadi lemah.

Contohnya:

PO:

Rp500 juta.

Invoice:

Rp550 juta.

Variance:

Rp50 juta.

Tanpa approval, perusahaan dapat membayar lebih dari nilai yang sebelumnya disepakati.


Masalah Jika PPV Masih Dipantau Manual

1. Baru Ketahuan Saat Closing

Accounting menemukan actual cost lebih tinggi pada akhir bulan.


2. Purchasing Sulit Mengetahui Trend

Harga tersebar di banyak file PO.


3. Finance Tidak Tahu Batas Tolerance

Invoice diproses tanpa referensi.


4. HPP Tidak Cepat Update

Costing menggunakan harga lama.


5. Budget Overrun Terlambat Diketahui

Management baru mengetahui setelah laporan dibuat.


Cara Mengontrol Purchase Price Variance

1. Tetapkan Standard atau Reference Price

Perusahaan harus memiliki baseline.

Bisa berupa:

  • standard cost

  • contract price

  • previous purchase price

  • budget price

  • PO price


2. Simpan Historical Purchase Price

Harga pembelian sebelumnya harus mudah ditelusuri.


3. Gunakan Approval PO

Harga pembelian besar atau di luar range harus mendapat approval.


4. Terapkan Three-Way Matching

Cocokkan PO, Goods Receipt, dan Supplier Invoice.


5. Tetapkan Price Tolerance

Tentukan batas variance yang masih diperbolehkan.


6. Pisahkan PPV dan Landed Cost

Agar analisis purchase price tetap jelas.


7. Pantau Variance per Supplier dan Item

Jangan hanya melihat total purchasing.


8. Analisis Dampaknya ke HPP

Pastikan kenaikan purchase price tercermin dalam costing sesuai metode perusahaan.


KPI yang Bisa Digunakan

Purchase Price Variance

Menunjukkan selisih harga actual terhadap baseline.


Average Purchase Price

Rata-rata harga pembelian per item.


Price Trend

Perubahan harga dari waktu ke waktu.


Supplier Price Consistency

Seberapa konsisten supplier mempertahankan harga.


Purchase Cost Saving

Selisih positif yang dihasilkan purchasing dibanding baseline.


Budget vs Actual Purchase

Membandingkan rencana pembelian dengan biaya aktual.


Contoh Analisis PPV

Misalnya perusahaan membeli Material A.

Budget Price:

Rp50.000/kg.

Volume tahunan:

100.000 kg.

Actual Average Price:

Rp52.500/kg.

Variance:

Rp2.500/kg.

Total annual variance:

Rp250.000.000

Management sekarang dapat mengevaluasi:

  • apakah kenaikan karena market?

  • apakah supplier tertentu lebih mahal?

  • apakah volume discount belum optimal?

  • apakah kontrak perlu dinegosiasi ulang?

Data PPV berubah menjadi alat keputusan, bukan hanya angka accounting.


Purchase Price Variance dan Profitability

Purchasing mungkin hanya melihat kenaikan Rp2.500 per kg.

Namun production menggunakan ribuan kilogram.

Sales menjual produk dengan margin tertentu.

Jika variance tidak diteruskan ke costing, gross margin yang dilihat sales bisa salah.

Karena itu, PPV memiliki dampak lintas fungsi:

Purchasing → Inventory → Production → HPP → Sales Margin → Accounting


Bagaimana ERP Membantu Mengontrol PPV?

ERP dapat menghubungkan transaksi seperti:

Purchase Request

Mencatat kebutuhan pembelian.

Purchase Order

Menjadi reference price transaksi.

Goods Receipt

Mencatat quantity aktual yang diterima.

Supplier Invoice

Mencatat harga aktual supplier.

Price Variance

Menunjukkan perbedaan terhadap reference.

Inventory

Menggunakan cost sesuai metode valuation.

Account Payable

Mencatat kewajiban aktual kepada supplier.

General Ledger

Mencatat dampak accounting.

Dengan alur tersebut, variance dapat ditelusuri ke transaksi asal.


PPV dalam Konteks Venus ERP

Dalam implementasi Venus ERP, proses purchasing dapat dihubungkan dengan:

  • Supplier

  • Purchase Request

  • Purchase Order

  • Goods Receipt

  • Inventory

  • Supplier Invoice

  • Account Payable

  • General Ledger

Dengan data yang terintegrasi, perusahaan dapat membandingkan harga transaksi dan menelusuri perubahan biaya dari purchasing sampai accounting.

Konfigurasi aktual tetap perlu mengikuti proses bisnis, metode costing, dan kebijakan perusahaan.


Jangan Hanya Ukur Purchasing dari Harga Termurah

Kinerja purchasing tidak seharusnya hanya dinilai dari:

“Berhasil mendapatkan harga paling murah.”

Perusahaan juga perlu melihat:

  • kualitas

  • delivery

  • payment term

  • reliability

  • landed cost

  • price variance

  • supplier performance

Supplier dengan harga murah tetapi sering mengubah harga atau terlambat mengirim dapat menimbulkan cost tambahan di proses lain.


Pertanyaan untuk Mengevaluasi Kontrol Harga Supplier

Coba jawab beberapa pertanyaan berikut:

  1. Apakah harga invoice sering berbeda dari PO?

  2. Apakah purchasing memiliki historical price yang mudah dilihat?

  3. Apakah perubahan harga membutuhkan approval?

  4. Apakah finance melakukan matching invoice dengan PO?

  5. Apakah terdapat tolerance untuk price variance?

  6. Apakah kenaikan harga supplier langsung terlihat dampaknya ke cost?

  7. Apakah purchasing dapat melihat variance per item?

  8. Apakah supplier dievaluasi berdasarkan actual cost, bukan hanya quotation?

Jika banyak jawabannya belum, proses procurement control perusahaan masih dapat ditingkatkan.


Kesimpulan

Purchase Price Variance membantu perusahaan mengetahui perbedaan antara harga yang direncanakan dengan harga pembelian aktual.

Variance dapat terjadi karena:

  • harga supplier berubah

  • quantity berubah

  • kondisi market

  • contract price berubah

  • kesalahan input

  • perubahan transaksi

Jika tidak dikontrol, PPV dapat memengaruhi:

  • purchasing budget

  • inventory cost

  • HPP

  • margin

  • supplier evaluation

  • accounting

Dengan ERP, perusahaan dapat menghubungkan:

Purchase Order → Goods Receipt → Supplier Invoice → Inventory → Account Payable → General Ledger

sehingga perubahan harga lebih mudah ditelusuri.

Kontrol Harga Pembelian dengan Venus ERP

Jika tim purchasing masih membandingkan PO, invoice supplier, dan histori harga menggunakan banyak spreadsheet, perubahan harga dapat sulit dipantau secara konsisten.

Venus ERP membantu mengintegrasikan Purchasing, Supplier, Inventory, Account Payable, Finance, dan Accounting dalam satu sistem.

Dengan transaksi yang terhubung, perusahaan dapat memiliki visibilitas lebih baik terhadap harga pembelian dan dampaknya terhadap cost.

Hubungi PT Sinergi Teknologi Solusindo untuk konsultasi dan demo Venus ERP sesuai kebutuhan perusahaan Anda.

Penawaran Terbaik Venus ERP

Hubungi kami untuk penawaran terbaik dan dapatkan gratis demo dan konsultasi!
Baca artikel lainnya :