sinergi software erp

Purchase Order sudah dibuat.

Approval sudah selesai.

Supplier sudah menerima pesanan.

Namun beberapa hari kemudian, barang belum juga datang.

Warehouse menunggu.

Production mulai kekurangan material.

Sales menanyakan kapan barang tersedia.

Purchasing kemudian harus membuka email, WhatsApp, dan spreadsheet untuk mencari tahu status masing-masing PO.

Masalah seperti ini sering terjadi ketika perusahaan hanya fokus pada proses pembuatan Purchase Order, tetapi belum memiliki kontrol yang baik terhadap Outstanding PO dan Supplier Lead Time.

Padahal proses purchasing belum selesai ketika PO disetujui.

Purchasing baru benar-benar selesai ketika barang atau jasa yang dipesan sudah diterima sesuai quantity, kualitas, harga, dan jadwal yang disepakati.

Karena itu, perusahaan perlu mengetahui:

  • PO mana yang masih terbuka

  • berapa quantity yang belum diterima

  • kapan barang seharusnya datang

  • supplier mana yang sering terlambat

  • PO mana yang sudah melewati due date

  • kebutuhan mana yang dapat menghambat production atau sales

Dengan ERP, informasi tersebut dapat dikelola dalam satu alur transaksi yang lebih terstruktur.


Apa Itu Outstanding Purchase Order?

Outstanding Purchase Order adalah Purchase Order yang belum sepenuhnya diselesaikan atau belum diterima sesuai quantity yang dipesan.

Contohnya:

Purchase Order:

1.000 unit.

Barang sudah diterima:

700 unit.

Outstanding:

300 unit

Artinya PO tersebut masih terbuka karena masih ada quantity yang belum diterima.


Contoh Outstanding PO

Misalnya perusahaan memiliki PO:

PO-2026-0152

Supplier:

PT Supplier ABC

Item:

Material A

Order Quantity:

5.000 kg

Received:

3.000 kg

Outstanding:

2.000 kg

Expected Delivery:

15 Oktober 2026

Jika tanggal sekarang sudah melewati tanggal delivery tetapi 2.000 kg belum diterima, PO tersebut perlu ditindaklanjuti.


Kenapa Outstanding PO Penting?

Outstanding PO menunjukkan komitmen pembelian yang belum selesai.

Informasi ini penting untuk:

  • Purchasing

  • Warehouse

  • Production

  • Finance

  • Management

Purchasing perlu follow-up supplier.

Warehouse perlu mempersiapkan penerimaan.

Production perlu mengetahui material yang belum tersedia.

Finance perlu memahami komitmen pembayaran yang akan datang.

Management perlu melihat risiko keterlambatan supply.


PO Approved Bukan Berarti Proses Selesai

Salah satu kesalahan umum adalah menganggap pekerjaan purchasing selesai ketika Purchase Order sudah approved.

Padahal setelah PO dibuat masih ada proses:

Purchase Order

↓

Supplier Confirmation

↓

Expected Delivery

↓

Goods Receipt

↓

Quantity Check

↓

Supplier Invoice

↓

Account Payable

Jika barang belum diterima, purchasing masih memiliki outstanding commitment.


Apa Itu Supplier Lead Time?

Supplier Lead Time adalah waktu yang dibutuhkan sejak pemesanan dilakukan sampai barang diterima.

Contohnya:

PO Date:

1 Oktober.

Goods Receipt:

11 Oktober.

Actual Lead Time:

10 hari.

Jika supplier menjanjikan lead time:

7 hari,

maka supplier terlambat:

3 hari.

Data seperti ini penting untuk supplier evaluation.


Planned Lead Time vs Actual Lead Time

Perusahaan sebaiknya membedakan:

Planned Lead Time

Waktu yang disepakati atau diperkirakan.

Contoh:

7 hari.

Actual Lead Time

Waktu aktual dari PO sampai barang diterima.

Contoh:

11 hari.

Variance:

+4 hari

Jika hal ini sering terjadi, supplier sebenarnya memiliki lead time lebih lama daripada yang digunakan dalam planning.


Kenapa Lead Time Penting untuk Inventory?

Lead time memengaruhi kapan perusahaan harus melakukan pemesanan.

Misalnya:

Average usage:

100 unit per hari.

Supplier Lead Time:

10 hari.

Artinya selama menunggu barang datang, perusahaan dapat menggunakan:

1.000 unit.

Jika purchasing baru melakukan order ketika stok tinggal 500 unit, perusahaan berisiko stockout sebelum barang datang.

Karena itu, supplier lead time harus menjadi bagian dari inventory planning.


Outstanding PO dan Stockout

Contohnya:

Current Stock:

600 unit.

Usage:

100 unit per hari.

Barang akan habis dalam:

6 hari.

Outstanding PO:

1.000 unit.

Supplier seharusnya datang:

10 hari lagi.

Artinya terdapat gap:

4 hari.

Walaupun perusahaan sudah memiliki PO, stockout masih dapat terjadi.

Ini menunjukkan bahwa memiliki Purchase Order tidak sama dengan memiliki barang tersedia.


Outstanding PO dan Production

Pada perusahaan manufaktur, keterlambatan satu material dapat menghentikan seluruh production order.

Contohnya:

Production membutuhkan:

Material A

Material B

Material C

Material A dan B tersedia.

Material C masih outstanding.

Walaupun Material C hanya memiliki nilai kecil, production tetap tidak dapat berjalan.

Karena itu, outstanding PO harus dikaitkan dengan criticality material.


Critical Material dan Outstanding PO

Tidak semua PO memiliki tingkat urgensi yang sama.

Contohnya:

Material A:

stok masih cukup untuk 30 hari.

Material B:

stok hanya cukup untuk 2 hari.

Keduanya memiliki PO outstanding.

Tetapi Material B jelas lebih kritis.

Purchasing dapat memprioritaskan follow-up berdasarkan:

  • stock level

  • production schedule

  • customer order

  • delivery date

  • material criticality


Outstanding PO dan Sales

Purchasing juga dapat memengaruhi customer delivery.

Misalnya perusahaan distributor menerima Sales Order:

500 unit.

Current Stock:

200 unit.

Outstanding PO:

500 unit.

Jika supplier terlambat, customer juga ikut menunggu.

Sales akhirnya harus menjelaskan keterlambatan yang sebenarnya berasal dari supply chain.

Karena itu, visibility terhadap outstanding PO penting lintas departemen.


Apa Itu Partial Delivery Supplier?

Supplier tidak selalu mengirim seluruh quantity dalam satu kali pengiriman.

Contohnya:

PO:

1.000 unit.

Delivery pertama:

400 unit.

Delivery kedua:

300 unit.

Outstanding:

300 unit.

ERP harus dapat menunjukkan:

Ordered:

1.000

Received:

700

Outstanding:

300

Dengan begitu purchasing tidak salah menganggap PO sudah selesai.


Kenapa Partial Receipt Harus Dicatat dengan Benar?

Jika warehouse hanya mengubah status PO menjadi “received” setelah pengiriman pertama, sisa quantity dapat terlewat.

Sebaliknya, jika penerimaan tidak dikaitkan dengan PO, purchasing sulit mengetahui quantity mana yang masih outstanding.

Dengan ERP, Goods Receipt dapat mengurangi outstanding quantity pada PO.


Contoh Alur Partial Receipt

Purchase Order:

2.000 kg.

Receipt 1:

800 kg.

Outstanding:

1.200 kg.

Receipt 2:

700 kg.

Outstanding:

500 kg.

Receipt 3:

500 kg.

Outstanding:

  1.  

Status:

Completed

Alur seperti ini memberikan visibility yang lebih jelas.


Apa Itu Overdue Purchase Order?

Overdue PO adalah Purchase Order yang melewati tanggal delivery tetapi belum selesai diterima.

Contohnya:

Expected Delivery:

10 Oktober.

Hari ini:

16 Oktober.

Outstanding Quantity:

500 unit.

PO tersebut overdue:

6 hari.

ERP dapat membantu membuat report PO yang sudah melewati expected delivery date.


Kenapa Overdue PO Perlu Dipantau?

Karena semakin lama overdue, semakin besar risiko terhadap:

  • stockout

  • production delay

  • customer delay

  • emergency purchase

  • biaya ekspedisi

  • pembelian dari supplier alternatif

Purchasing tidak seharusnya menunggu user lain mengeluh baru melakukan follow-up.


Purchase Order Aging

PO juga dapat dianalisis berdasarkan umur.

Contohnya:

0–7 hari

8–14 hari

15–30 hari

31–60 hari

60 hari

Outstanding PO yang sudah terlalu lama perlu diperiksa.

Apakah:

  • supplier belum mengirim?

  • barang sebenarnya sudah diterima tetapi belum diinput?

  • order dibatalkan?

  • PO masih menggantung?

  • perlu ditutup?


Masalah PO Lama yang Tidak Pernah Ditutup

Perusahaan sering memiliki PO lama yang sebenarnya sudah tidak aktif.

Namun sistem masih menunjukkan sebagai outstanding.

Akibatnya:

  • purchase commitment terlihat terlalu tinggi

  • planning menjadi tidak akurat

  • supplier outstanding report penuh dengan transaksi lama

  • user sulit fokus pada PO yang benar-benar aktif

Karena itu, PO lama perlu direview secara berkala.


Status Purchase Order

Purchase Order dapat memiliki status seperti:

  • Draft

  • Pending Approval

  • Approved

  • Sent to Supplier

  • Partially Received

  • Fully Received

  • Closed

  • Cancelled

Status membantu user memahami posisi transaksi.


Purchase Order dan Expected Delivery Date

Setiap PO idealnya memiliki expected delivery date.

Contohnya:

PO Date:

1 Oktober.

Lead Time Supplier:

14 hari.

Expected Delivery:

15 Oktober.

Purchasing kemudian dapat membandingkan tanggal aktual penerimaan dengan expected date.


Supplier On-Time Delivery

Salah satu KPI supplier adalah On-Time Delivery.

Secara sederhana:

On-Time Delivery % = Delivery Tepat Waktu ÷ Total Delivery × 100%

Contohnya:

Supplier melakukan:

20 pengiriman.

Tepat waktu:

  1.  

On-Time Delivery:

80%.

Data ini membantu supplier evaluation.


Supplier yang Murah Belum Tentu Lebih Baik

Supplier A:

Harga lebih murah 5%.

Tetapi sering terlambat.

Supplier B:

Harga sedikit lebih tinggi.

Namun lead time konsisten.

Jika keterlambatan Supplier A menyebabkan:

  • production stop

  • emergency purchase

  • overtime

  • customer delay

maka total cost dapat menjadi lebih tinggi.

Karena itu, supplier performance tidak hanya diukur dari harga.


KPI Supplier yang Perlu Dipantau

Selain harga, perusahaan dapat melihat:

On-Time Delivery

Apakah supplier datang sesuai jadwal?

Average Lead Time

Berapa hari rata-rata pengiriman?

Lead Time Variance

Seberapa konsisten delivery?

Quantity Accuracy

Apakah quantity sesuai PO?

Quality Acceptance

Berapa banyak barang yang diterima tanpa reject?

Purchase Price Variance

Apakah harga aktual sesuai kesepakatan?

Supplier evaluation menjadi lebih objektif ketika menggunakan data transaksi.


Outstanding PO dan Purchase Commitment

PO yang sudah approved menunjukkan perusahaan memiliki komitmen pembelian.

Contohnya:

Outstanding PO Value:

Rp5 miliar.

Artinya perusahaan berpotensi memiliki cash out di masa depan.

Finance dapat menggunakan informasi tersebut untuk cash planning.


Outstanding PO dan Cash Flow

Misalnya:

Outstanding PO Oktober:

Rp2 miliar.

November:

Rp3 miliar.

Desember:

Rp1,5 miliar.

Informasi tersebut belum berarti pembayaran langsung terjadi pada tanggal tersebut.

Namun finance dapat menggunakannya sebagai salah satu input untuk memperkirakan kewajiban yang akan datang.


PO, Goods Receipt, dan Account Payable

Purchase Order belum otomatis menjadi hutang supplier.

Secara sederhana:

Purchase Order

menunjukkan komitmen pembelian.

Goods Receipt

menunjukkan barang sudah diterima.

Supplier Invoice

membentuk kewajiban sesuai proses perusahaan.

Account Payable

menunjukkan hutang.

Karena itu, reporting harus membedakan outstanding PO dan outstanding AP.


Outstanding PO vs Outstanding AP

Outstanding PO:

Barang atau order belum selesai.

Outstanding AP:

Invoice supplier sudah menjadi kewajiban tetapi belum dibayar.

Keduanya sama-sama “outstanding”, tetapi konteksnya berbeda.


Apa Itu Open Purchase Order Report?

Open PO Report menampilkan PO yang masih belum selesai.

Informasi dapat mencakup:

  • PO Number

  • Supplier

  • PO Date

  • Item

  • Ordered Qty

  • Received Qty

  • Outstanding Qty

  • Expected Date

  • Overdue Days

  • Value

Report ini sangat penting untuk purchasing monitoring.


Contoh Open PO Report

POSupplierOrderedReceivedOutstandingDue
PO-001Supplier A1.00070030015 Oct
PO-002Supplier B500050018 Oct
PO-003Supplier C2.0001.50050010 Oct

Dari report tersebut, PO-003 perlu perhatian karena sudah overdue.


Purchasing Dashboard

Purchasing dapat memiliki dashboard yang menunjukkan:

  • open PO

  • overdue PO

  • PO value

  • supplier delivery performance

  • purchase price variance

  • outstanding quantity

  • top supplier

  • pending approval

Dengan dashboard seperti ini, purchasing tidak hanya bereaksi terhadap masalah.

Tim dapat melakukan monitoring secara proaktif.


Masalah Jika Outstanding PO Masih Dipantau di Excel

Status Cepat Tidak Update

Warehouse sudah menerima barang tetapi spreadsheet belum diperbarui.


Banyak Versi File

Purchasing memiliki versi sendiri.

Warehouse memiliki versi lain.


Partial Delivery Sulit Dilacak

User harus menghitung sisa quantity manual.


Overdue PO Mudah Terlewat

Tidak ada warning berdasarkan tanggal.


Supplier Performance Sulit Dihitung

Histori tersebar.


Management Sulit Melihat Purchase Commitment

Nilai PO harus direkap manual.


Outstanding PO dan Data Silo

Purchasing dapat merasa:

“Barang belum datang.”

Warehouse mengatakan:

“Barang sudah diterima kemarin.”

Ternyata warehouse belum mengirim informasi receiving.

Masalah ini merupakan contoh data silo.

Jika Goods Receipt dibuat langsung dengan referensi Purchase Order dalam ERP, status PO dapat diperbarui berdasarkan transaksi aktual.


Bagaimana ERP Membantu Monitoring Outstanding PO?

ERP dapat menghubungkan:

Purchase Request

↓

Purchase Order

↓

Expected Delivery

↓

Goods Receipt

↓

Outstanding Quantity

↓

Supplier Invoice

↓

Account Payable

Setiap receipt mengurangi quantity outstanding.

Purchasing kemudian dapat melihat transaksi tanpa melakukan perhitungan manual.


Reminder untuk PO yang Jatuh Tempo

Perusahaan juga dapat membuat mekanisme monitoring berdasarkan due date.

Contohnya:

H-7:

PO mendekati delivery.

H-3:

Purchasing follow-up supplier.

Due Date:

Pastikan shipment status.

H+1:

Masuk overdue monitoring.

Mekanisme reminder bergantung pada kemampuan sistem dan SOP perusahaan.


Supplier Confirmation

Setelah PO dikirim, supplier sebaiknya mengonfirmasi:

  • quantity

  • price

  • delivery date

  • terms

Ini membantu mengurangi kondisi di mana purchasing menganggap PO sudah diterima supplier padahal belum dikonfirmasi.


Promised Date vs Requested Date

Ada dua tanggal yang dapat dibedakan.

Requested Delivery Date

Tanggal yang diminta perusahaan.

Promised Delivery Date

Tanggal yang dikonfirmasi supplier.

Contohnya:

Requested:

15 Oktober.

Supplier mengatakan hanya bisa:

18 Oktober.

Dengan menyimpan keduanya, purchasing dapat mengetahui apakah supplier memenuhi tanggal yang sudah dikonfirmasi.


Lead Time Variance

Misalnya:

Standard Lead Time:

7 hari.

Actual rata-rata supplier:

12 hari.

Variance:

+5 hari.

Jika planning masih menggunakan 7 hari, inventory planning akan terus mengalami masalah.

Historical lead time perlu digunakan sebagai dasar evaluasi.


Supplier Lead Time dan Reorder Point

Secara sederhana, reorder point sering dipengaruhi oleh:

Demand selama lead time + Safety Stock

Contohnya:

Average usage:

100 unit/hari.

Lead time:

10 hari.

Demand selama lead time:

1.000 unit.

Safety Stock:

300 unit.

Reorder Point:

1.300 unit

Ketika stock mendekati level tersebut, purchasing perlu mempersiapkan replenishment sesuai kebijakan perusahaan.


Lead Time yang Tidak Akurat Membuat Reorder Point Salah

Jika sistem menganggap supplier lead time:

7 hari,

padahal actual:

14 hari,

kebutuhan selama lead time bisa menjadi dua kali lebih besar.

Akibatnya perusahaan selalu terlambat order.

Jadi inventory planning membutuhkan data supplier yang realistis.


Outstanding PO dan Safety Stock

Safety stock membantu mengurangi risiko variasi demand dan supply.

Namun safety stock bukan solusi untuk supplier yang terus-menerus terlambat.

Jika keterlambatan menjadi pola, perusahaan perlu:

  • memperbarui lead time

  • mengevaluasi supplier

  • mencari supplier alternatif

  • renegosiasi SLA

  • menyesuaikan inventory planning


Outstanding PO dan Supplier Alternatif

Jika material kritis terlalu bergantung pada satu supplier, risiko supply meningkat.

Perusahaan dapat mempertimbangkan:

  • alternate supplier

  • dual sourcing

  • framework contract

sesuai strategi procurement.

Data lead time dan delivery performance membantu menentukan supplier alternatif.


Apa Itu Expedite Purchasing?

Expediting adalah aktivitas mempercepat atau memastikan supplier memenuhi jadwal pengiriman.

Contohnya purchasing melakukan follow-up:

  • status produksi barang

  • readiness

  • shipment date

  • transportation

  • estimated arrival

PO yang kritis dapat diberi prioritas expediting.


Jangan Follow-Up Semua PO dengan Cara yang Sama

Purchasing dapat memiliki ratusan PO.

Tidak efisien jika semuanya diperlakukan sama.

Prioritaskan berdasarkan:

  • overdue

  • nilai

  • critical material

  • production impact

  • customer impact

  • low stock

  • supplier risk

ERP membantu menyediakan data untuk menentukan prioritas tersebut.


Contoh Prioritas Outstanding PO

Priority 1

Material critical.

Stock tinggal 2 hari.

PO overdue.

Priority 2

Material penting.

Stock masih 10 hari.

Delivery mendekati due date.

Priority 3

Non-critical.

Stock masih cukup 30 hari.

Semua PO tetap dipantau, tetapi tingkat follow-up berbeda.


Outstanding PO dan Emergency Purchase

Supplier terlambat dapat menyebabkan perusahaan melakukan pembelian darurat.

Harga normal:

Rp100.000.

Emergency Supplier:

Rp130.000.

Quantity:

1.000 unit.

Additional cost:

Rp30 juta.

Keterlambatan supplier akhirnya memengaruhi purchasing cost.


Keterlambatan Supplier Bisa Memengaruhi Margin

Emergency purchase lebih mahal.

Freight express lebih mahal.

Production overtime.

Customer delivery terlambat.

Semua ini dapat menambah cost.

Jadi supplier lead time pada akhirnya juga dapat memengaruhi profitability.


Supplier Performance Review

Perusahaan dapat melakukan review bulanan atau kuartalan.

Contohnya:

Supplier A:

OTD: 95%

Quality Acceptance: 98%

Average Lead Time: 7 hari

Supplier B:

OTD: 70%

Quality Acceptance: 99%

Average Lead Time: 14 hari

Management dapat menggunakan data tersebut untuk keputusan sourcing.


Purchase Order dan Contract Supplier

Untuk supplier dengan transaksi rutin, perusahaan dapat memiliki kontrak terkait:

  • price

  • minimum quantity

  • lead time

  • delivery schedule

  • payment term

PO kemudian mengikuti kontrak yang sudah disepakati.

Actual performance dapat dibandingkan dengan komitmen supplier.


Cara Mengurangi Outstanding PO yang Tidak Terkontrol

1. Gunakan Expected Delivery Date

Setiap PO harus memiliki target penerimaan.

2. Update Goods Receipt Tepat Waktu

Receiving harus segera masuk sistem.

3. Monitor Partial Receipt

Jangan hanya menggunakan status “sudah datang”.

4. Review Overdue PO

Buat monitoring rutin.

5. Bersihkan PO Lama

Close atau cancel PO yang sudah tidak valid.

6. Pantau Supplier Lead Time

Gunakan actual historical data.

7. Prioritaskan Material Critical

Jangan hanya follow-up berdasarkan nilai PO.

8. Evaluasi Supplier

Gunakan delivery performance dalam supplier review.


KPI Purchasing yang Berkaitan dengan Outstanding PO

Open PO Value

Total nilai Purchase Order yang belum selesai.

Outstanding Quantity

Quantity yang belum diterima.

Overdue PO Count

Jumlah PO melewati due date.

On-Time Delivery %

Persentase supplier delivery tepat waktu.

Average Supplier Lead Time

Rata-rata waktu penerimaan.

Lead Time Variance

Selisih plan dan actual.

PO Fulfillment Rate

Persentase quantity yang berhasil dipenuhi supplier.


Contoh Monitoring Purchasing

Management dapat melihat:

Total Open PO:

Rp10 miliar.

Overdue:

Rp1,5 miliar.

Outstanding critical material:

Rp500 juta.

Supplier dengan overdue terbesar:

Supplier A.

Average lead time:

12 hari.

Dengan data tersebut, purchasing dapat langsung fokus pada area yang paling berisiko.


Bagaimana Venus ERP Membantu Purchasing?

Venus ERP membantu menghubungkan proses purchasing dengan supplier, warehouse, inventory, finance, dan accounting.

Pengelolaan dapat mencakup:

Purchase Request

Kelola kebutuhan pembelian.

Approval

Kontrol approval sesuai kewenangan.

Purchase Order

Kelola pesanan supplier.

Goods Receipt

Catat barang yang benar-benar diterima.

Outstanding Purchase Order

Pantau quantity yang masih belum diterima.

Supplier Transaction History

Telusuri histori pembelian.

Inventory Integration

Hubungkan penerimaan dengan stock.

Account Payable

Hubungkan supplier invoice dengan kewajiban pembayaran.

General Ledger

Hubungkan transaksi purchasing dan finance dengan accounting sesuai konfigurasi.

Dengan transaksi yang terhubung, purchasing dapat memiliki visibility lebih baik terhadap status PO.


PO Monitoring Bukan Hanya Tugas Purchasing

Outstanding PO memiliki dampak lintas departemen.

Purchasing

melakukan follow-up supplier.

Warehouse

melakukan receiving.

Production

menunggu material.

Sales

menunggu finished goods atau barang dagang.

Finance

mempersiapkan cash flow.

Management

mengelola risiko operasional.

Karena itu, informasi purchasing sebaiknya dapat digunakan oleh fungsi terkait sesuai authority masing-masing.


Pertanyaan untuk Mengevaluasi Proses Purchasing Anda

Coba jawab:

  1. Apakah mudah mengetahui PO mana yang belum selesai?

  2. Apakah outstanding quantity dapat dilihat tanpa Excel?

  3. Apakah overdue PO dapat diketahui dengan cepat?

  4. Apakah supplier lead time dicatat?

  5. Apakah actual delivery dibandingkan dengan promised date?

  6. Apakah partial receipt mudah ditelusuri?

  7. Apakah PO lama masih banyak menggantung?

  8. Apakah supplier performance dihitung dari data transaksi?

  9. Apakah production dapat mengetahui material yang masih outstanding?

  10. Apakah management mengetahui nilai open purchase commitment?

Jika banyak jawabannya belum, proses PO monitoring masih dapat diperbaiki.


Kesimpulan

Purchase Order yang sudah approved belum berarti kebutuhan perusahaan sudah terpenuhi.

Purchasing masih perlu memastikan barang benar-benar diterima sesuai:

  • quantity

  • jadwal

  • kualitas

  • kondisi transaksi

Karena itu, perusahaan perlu memonitor:

Purchase Order → Expected Delivery → Goods Receipt → Outstanding Quantity → Supplier Invoice

Outstanding PO membantu perusahaan mengetahui komitmen pembelian yang belum selesai.

Supplier Lead Time membantu perusahaan memahami seberapa cepat dan konsisten supplier memenuhi kebutuhan.

Dengan data tersebut, perusahaan dapat mengurangi risiko:

  • stockout

  • production delay

  • customer delivery terlambat

  • emergency purchase

  • biaya tambahan

Monitor Outstanding PO dengan Venus ERP

Jika tim purchasing masih harus membuka banyak spreadsheet, email, dan chat untuk mengetahui barang mana yang belum datang, proses monitoring supplier dapat menjadi tidak efisien.

Venus ERP membantu mengintegrasikan Purchase Request, Purchase Order, Goods Receipt, Inventory, Account Payable, Finance, dan Accounting dalam satu sistem.

Dengan transaksi yang lebih terstruktur, perusahaan dapat memantau outstanding PO dan histori supplier dengan lebih baik.

Hubungi PT Sinergi Teknologi Solusindo untuk konsultasi dan demo Venus ERP sesuai kebutuhan perusahaan Anda.

Penawaran Terbaik Venus ERP

Hubungi kami untuk penawaran terbaik dan dapatkan gratis demo dan konsultasi!
Baca artikel lainnya :