sinergi software erp

Perusahaan sudah menaikkan harga jual. Omzet juga meningkat. Tetapi ketika laporan keuangan selesai, gross margin ternyata tidak banyak berubah. Bahkan pada beberapa produk, margin justru semakin tipis. Kenapa bisa terjadi? Masalahnya belum tentu pada harga jual.

Ada kemungkinan Harga Pokok Penjualan atau HPP meningkat lebih cepat.

  • Harga material naik.
  • Freight meningkat.
  • Landed cost berubah.
  • Waste production bertambah.
  • Supplier menaikkan harga.
  • Cost inventory berubah.
  • Discount customer terlalu besar.

Semua faktor tersebut dapat membuat margin menyusut meskipun revenue naik.

Karena itu, perusahaan tidak cukup hanya melihat:

“Berapa nilai penjualannya?”

Perusahaan juga perlu mengetahui:

“Berapa sebenarnya biaya untuk menghasilkan atau memperoleh produk tersebut?”

Di sinilah integrasi data dalam ERP menjadi penting.


Apa Itu Profit Margin?

Profit margin menunjukkan seberapa besar keuntungan yang diperoleh dari penjualan.

Dalam konteks produk, salah satu indikator yang paling sering digunakan adalah Gross Margin.

Secara sederhana:

Gross Profit = Sales Revenue – HPP

Kemudian:

Gross Margin % = Gross Profit ÷ Sales Revenue × 100%

Contohnya:

Sales:

Rp100 juta.

HPP:

Rp70 juta.

Gross Profit:

Rp30 juta.

Gross Margin:

30%.

Jika HPP naik menjadi:

Rp85 juta,

sementara sales tetap Rp100 juta,

Gross Profit turun menjadi:

Rp15 juta.

Gross Margin menjadi:

15%.

Artinya, revenue tetap sama tetapi profitabilitas turun drastis.


Kenapa Omzet Tinggi Belum Tentu Profit Tinggi?

Omzet hanya menunjukkan nilai penjualan.

Omzet tidak menunjukkan berapa biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk menghasilkan penjualan tersebut.

Contohnya:

Produk A menghasilkan sales:

Rp5 miliar.

Produk B menghasilkan sales:

Rp3 miliar.

Sekilas Produk A terlihat lebih baik.

Namun jika:

HPP Produk A:

Rp4,7 miliar.

Gross Profit:

Rp300 juta.

Sedangkan Produk B:

HPP:

Rp2 miliar.

Gross Profit:

Rp1 miliar.

Maka Produk B sebenarnya memberikan kontribusi gross profit lebih besar.

Karena itu, management tidak seharusnya hanya melihat sales value.


Apa Itu HPP?

Harga Pokok Penjualan atau HPP adalah biaya yang berkaitan dengan barang atau produk yang telah dijual.

Komponen HPP dapat berbeda tergantung model bisnis perusahaan.

Pada perusahaan distributor, HPP dapat dipengaruhi oleh:

  • purchase price

  • landed cost

  • inventory valuation

  • freight tertentu

  • handling tertentu

Pada perusahaan manufaktur, HPP dapat melibatkan:

  • raw material

  • production cost

  • labor

  • overhead

  • waste

  • production variance

  • finished goods valuation

Semakin kompleks bisnis, semakin penting proses costing yang terintegrasi.


Harga Jual Naik, Kenapa Margin Tetap Turun?

Misalnya sebelumnya:

Harga jual:

Rp150.000/unit.

HPP:

Rp100.000.

Gross Profit:

Rp50.000.

Margin:

33,3%.

Kemudian harga jual dinaikkan menjadi:

Rp160.000.

Management berharap margin meningkat.

Namun saat yang sama:

Purchase price naik.

Freight naik.

Actual HPP menjadi:

Rp125.000.

Gross Profit:

Rp35.000.

Gross Margin:

21,9%.

Walaupun harga jual naik Rp10.000, margin justru turun.

Masalahnya adalah kenaikan cost sebesar Rp25.000 tidak tertutup oleh kenaikan harga jual.


Penyebab Margin Produk Menjadi Tipis

Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan margin turun.


1. Harga Material Naik

Untuk perusahaan manufaktur, material dapat menjadi komponen besar dalam HPP.

Contohnya:

Material sebelumnya:

Rp50.000/unit.

Sekarang:

Rp60.000/unit.

Naik:

20%.

Jika perusahaan tidak segera menyesuaikan pricing, margin produk dapat berkurang.


2. Purchase Price Supplier Berubah

Supplier dapat menaikkan harga.

Jika purchasing masih menggunakan reference price lama saat melakukan costing, sales dapat menggunakan dasar cost yang sudah tidak relevan.

Purchase Price Variance perlu dipantau agar perubahan harga supplier cepat terlihat.


3. Landed Cost Meningkat

Harga beli tidak berubah.

Tetapi biaya:

  • freight

  • import duty

  • insurance

  • handling

  • forwarding

meningkat.

Akibatnya total cost barang bertambah.

Jika sales hanya melihat Purchase Order price, margin terlihat lebih tinggi dari kondisi sebenarnya.


4. Waste Production Meningkat

Misalnya secara standar untuk menghasilkan 100 unit dibutuhkan:

1.000 kg material.

Namun actual usage:

1.150 kg.

Ada additional consumption:

150 kg.

Jika kondisi ini terjadi terus-menerus, actual production cost meningkat.


5. Reject Rate Tinggi

Production menghasilkan:

10.000 unit.

Tetapi yang lolos QC hanya:

9.000 unit.

Biaya material dan proses sudah dikeluarkan untuk seluruh produksi.

Namun quantity good product lebih sedikit.

Cost per finished unit akhirnya meningkat.


6. Discount Sales Terlalu Tinggi

List Price:

Rp200.000.

Standard discount:

5%.

Actual discount:

20%.

Revenue per unit turun.

Jika HPP tetap sama, margin turun.

Karena itu, discount approval juga perlu memperhatikan margin.


7. Cost Inventory Berubah

Jika perusahaan menggunakan Average Cost, pembelian baru dengan harga lebih tinggi dapat menaikkan average inventory cost.

Sales mungkin tidak langsung menyadari perubahan tersebut.

Akibatnya pricing masih menggunakan cost lama.


8. Freight Penjualan Tidak Diperhitungkan

Beberapa perusahaan menanggung biaya delivery ke customer.

Jika freight outbound cukup besar tetapi tidak diperhitungkan dalam profitability analysis, margin customer atau order dapat terlihat terlalu tinggi.


9. Retur dan Credit Note

Customer return juga dapat menurunkan profitability.

Terutama jika perusahaan menanggung:

  • freight return

  • replacement

  • handling

  • damaged goods

Sales awal mungkin terlihat profitable.

Namun setelah return, profit aktual berubah.


10. Costing Masih Menggunakan Spreadsheet Terpisah
  • Purchasing memiliki purchase price.
  • Warehouse memiliki inventory cost.
  • Production memiliki cost sendiri.
  • Sales memiliki price list.
  • Accounting menghitung HPP saat closing.

Jika data tidak terintegrasi, margin yang digunakan oleh setiap departemen dapat berbeda.


Gross Margin vs Net Margin

Gross Margin hanya membandingkan Sales dengan HPP.

Sedangkan Net Margin memperhitungkan biaya operasional lain.

Contohnya:

Sales:

Rp1 miliar.

HPP:

Rp700 juta.

Gross Profit:

Rp300 juta.

Operating Expense:

Rp200 juta.

Profit sebelum komponen lain:

Rp100 juta.

Karena itu, produk dengan gross margin bagus belum tentu menghasilkan net margin tinggi jika biaya pendukungnya besar.

Namun Gross Margin tetap menjadi indikator penting untuk melihat profitabilitas produk.


Margin per Produk

Management sebaiknya tidak hanya melihat total perusahaan.

Margin juga dapat dianalisis per produk.

Contohnya:

ProdukSalesHPPGross ProfitMargin
Produk ARp1 MRp700 JtRp300 Jt30%
Produk BRp800 JtRp720 JtRp80 Jt10%
Produk CRp500 JtRp300 JtRp200 Jt40%

Dari data tersebut, Produk C memiliki margin tertinggi meskipun sales-nya paling kecil.

Informasi ini membantu management menentukan strategi produk.


Margin per Customer

Customer dengan sales terbesar belum tentu menjadi customer paling profitable.

Contohnya:

Customer A:

Sales:

Rp2 miliar.

Discount:

besar.

Freight:

ditanggung perusahaan.

Gross Profit:

Rp150 juta.

Customer B:

Sales:

Rp1 miliar.

Discount:

kecil.

Freight:

dibayar customer.

Gross Profit:

Rp250 juta.

Customer B dapat memberikan margin lebih besar meskipun omzet lebih kecil.


Margin per Sales Order

Profitability juga dapat dianalisis per transaksi.

Misalnya:

Sales Order A:

Revenue:

Rp500 juta.

HPP:

Rp350 juta.

Gross Profit:

Rp150 juta.

Sales Order B:

Revenue:

Rp500 juta.

HPP:

Rp460 juta.

Gross Profit:

Rp40 juta.

Nominal sales sama.

Profitability berbeda jauh.


Margin per Branch

Perusahaan multi-branch juga dapat membandingkan:

  • sales

  • HPP

  • gross profit

  • gross margin

per cabang.

Misalnya:

Branch Jakarta:

Margin 25%.

Branch Surabaya:

Margin 18%.

Branch Medan:

Margin 12%.

Management kemudian dapat mencari penyebab perbedaannya.

Apakah karena:

  • supplier

  • freight

  • price

  • customer mix

  • discount

  • product mix


Margin per Product Category

Tidak semua analisis harus dilakukan sampai SKU.

Perusahaan juga dapat melihat kategori.

Contohnya:

Electrical Product:

Margin 30%.

Mechanical Product:

Margin 18%.

Consumable:

Margin 12%.

Analisis kategori membantu menentukan fokus bisnis.


Kenapa Actual Cost Lebih Penting daripada Estimasi Saja?

Sebelum transaksi terjadi, perusahaan biasanya menggunakan estimated cost.

Namun setelah proses berjalan, actual cost bisa berbeda.

Contohnya:

Estimated Purchase Cost:

Rp100 juta.

Actual:

Rp110 juta.

Estimated Freight:

Rp10 juta.

Actual:

Rp15 juta.

Estimated Production Waste:

2%.

Actual:

5%.

Jika profitability hanya menggunakan estimasi, margin terlihat tidak realistis.

Karena itu, perusahaan membutuhkan proses untuk membandingkan:

Estimated Margin

vs

Actual Margin


Estimated Margin vs Actual Margin

Contohnya:

Saat Sales Order dibuat:

Revenue:

Rp200 juta.

Estimated HPP:

Rp140 juta.

Estimated Gross Profit:

Rp60 juta.

Estimated Margin:

30%.

Setelah transaksi selesai:

Actual HPP:

Rp165 juta.

Actual Gross Profit:

Rp35 juta.

Actual Margin:

17,5%.

Terdapat margin erosion:

12,5 percentage points.

Management perlu mengetahui penyebabnya.


Apa Itu Margin Erosion?

Margin erosion adalah kondisi ketika margin aktual menurun dibandingkan target atau periode sebelumnya.

Penyebabnya dapat berupa:

  • purchase price naik

  • landed cost naik

  • discount meningkat

  • waste production

  • reject

  • freight meningkat

  • exchange rate

  • selling price tidak berubah

Dengan ERP, perusahaan dapat menelusuri sumber perubahan cost lebih mudah jika proses terkait saling terhubung.


Hubungan Purchasing dengan Margin

Purchasing memiliki pengaruh langsung terhadap product cost.

Misalnya:

Harga material naik 10%.

Volume purchase:

Rp10 miliar per tahun.

Dampaknya dapat mencapai:

Rp1 miliar tambahan cost.

Karena itu, purchasing performance tidak hanya dilihat dari kemampuan membeli barang.

Purchasing juga memengaruhi margin perusahaan.


Hubungan Landed Cost dengan Margin

Supplier menawarkan harga murah. Tetapi barang berasal dari lokasi jauh.

  • Freight tinggi.
  • Handling tinggi.
  • Insurance tinggi.
  • Harga purchase terlihat murah.
  • Namun landed cost tinggi.

Jika perusahaan hanya menggunakan purchase price untuk menghitung margin, profitability menjadi misleading.


Hubungan Inventory dengan Margin

Inventory valuation menentukan cost yang digunakan ketika barang dijual.

Jika cost inventory tidak akurat, HPP juga tidak akurat.

Contohnya:

  • Physical stock benar.
  • Tetapi landed cost belum masuk.
  • Inventory value terlalu rendah.
  • Ketika barang dijual, HPP juga terlalu rendah.
  • Margin akhirnya terlihat terlalu tinggi.

Hubungan Production dengan Margin

Production memengaruhi:

  • material consumption

  • labor

  • machine cost

  • overhead

  • yield

  • reject

  • waste

Jika actual production tidak sesuai standard, product cost berubah.

Contohnya:

Standard Material:

Rp100 juta.

Actual:

Rp115 juta.

Standard Output:

1.000 unit.

Actual Good Output:

900 unit.

Cost per good unit meningkat signifikan.


Hubungan Sales dengan Margin

Sales memengaruhi sisi revenue.

Faktor seperti:

  • selling price

  • discount

  • promotion

  • customer-specific price

  • payment term

dapat memengaruhi profitability.

Sales tidak cukup hanya mengejar omzet.

Order dengan nilai besar tetapi margin sangat rendah belum tentu memberikan kontribusi yang baik.


Approval Discount Berdasarkan Margin

Misalnya:

List Price:

Rp100.000.

HPP:

Rp70.000.

Standard Margin:

30%.

Sales memberikan discount 10%.

Selling Price:

Rp90.000.

Margin:

Rp20.000.

Gross Margin:

22,2%.

Jika sales memberikan discount 20%:

Selling Price:

Rp80.000.

Margin hanya:

Rp10.000.

Gross Margin:

12,5%.

Karena itu, approval discount dapat mempertimbangkan dampaknya terhadap margin.


Margin dan Credit Term

Payment term juga dapat menjadi bagian dari commercial decision.

Dua customer membeli dengan harga sama.

Customer A:

COD.

Customer B:

90 days.

Secara gross margin mungkin sama.

Namun dari perspektif cash flow dan working capital, kondisinya berbeda.

Karena itu, profitability analysis yang lebih matang dapat mempertimbangkan faktor komersial lainnya.


HPP dan Inventory Valuation

Metode valuation dapat memengaruhi cost yang digunakan.

Perusahaan dapat menggunakan metode seperti:

  • Average Cost

  • FIFO

  • Standard Cost

sesuai kebutuhan dan kebijakan accounting.

Metode yang berbeda dapat menghasilkan pola HPP yang berbeda.

Karena itu, accounting dan management perlu memahami bagaimana sistem menghitung cost.


Contoh Average Cost dan Margin

Existing stock:

100 unit × Rp100.000

=

Rp10 juta.

Purchase baru:

100 unit × Rp140.000

=

Rp14 juta.

Average cost baru:

Rp120.000.

Jika sales masih menggunakan referensi cost Rp100.000, margin terlihat terlalu besar.

ERP membantu membuat cost inventory mengikuti transaksi yang terjadi sesuai metode yang digunakan.


HPP dan General Ledger

Pada saat penjualan, transaksi inventory dapat menghasilkan jurnal seperti:

Debit Cost of Goods Sold

Credit Inventory

Nilai tersebut kemudian masuk ke General Ledger.

Sales revenue dapat menghasilkan:

Debit Account Receivable

Credit Revenue

Dari dua sisi tersebut, perusahaan memperoleh:

Revenue

dikurangi

COGS

=

Gross Profit.

Jika transaksi sales dan inventory tidak terintegrasi, reconciliation menjadi lebih sulit.


Kenapa Profit Margin Baru Diketahui Setelah Closing?

Ini sering terjadi ketika data masih tersebar. Sales mengetahui selling price. Purchasing mengetahui purchase price. Logistics mengetahui freight. Production mengetahui usage. Accounting baru menggabungkan semuanya pada akhir bulan.

Akibatnya:

  • Margin real baru terlihat setelah closing.
  • Padahal saat itu transaksi sudah selesai.

Dengan sistem terintegrasi, visibility terhadap cost dapat diperbaiki sehingga management dapat melakukan analisis lebih cepat.


Profitability Bukan Sekadar Laporan Accounting

Profitability analysis seharusnya digunakan oleh banyak fungsi.

  • Sales

Untuk menentukan price dan discount.

  • Purchasing

Untuk memahami dampak price variance.

  • Production

Untuk mengontrol material dan waste.

  • Finance

Untuk memahami kontribusi transaksi.

  • Management

Untuk menentukan strategi produk dan customer.

Karena itu, profit margin merupakan informasi lintas departemen.


Bagaimana ERP Membantu Analisis Margin?

ERP membantu menghubungkan data dari berbagai proses.

Purchasing

memberikan purchase cost.

↓

Landed Cost

memberikan additional acquisition cost.

↓

Inventory

membentuk valuation.

↓

Production

menambah production cost.

↓

Sales

memberikan selling price.

↓

Accounting

mencatat revenue dan HPP.

↓

Profitability Analysis

membandingkan revenue dengan cost.

Ketika data berasal dari sumber yang sama, analisis margin menjadi lebih konsisten.


Analis is Margin yang Bisa Dilakukan

Perusahaan dapat menganalisis:

  • margin per product

  • margin per category

  • margin per customer

  • margin per Sales Order

  • margin per branch

  • margin per salesperson

  • margin per period

Detail yang tersedia tetap bergantung pada struktur data dan konfigurasi ERP perusahaan.


Margin Trend

Jangan hanya melihat satu bulan.

Management juga perlu melihat tren.

Contohnya:

Januari:

30%

Februari:

29%

Maret:

27%

April:

24%

Mei:

21%

Sales mungkin tetap tumbuh.

Namun margin terus turun.

Trend seperti ini perlu segera dianalisis.


Analisis Margin per Supplier

Supplier juga dapat memengaruhi margin produk.

Misalnya satu item dibeli dari dua supplier.

Supplier A:

Average cost lebih rendah.

Supplier B:

Cost lebih tinggi.

Jika pembelian dari Supplier B meningkat, average product cost naik.

Data supplier dapat membantu purchasing melihat dampaknya terhadap profitability.


Produk dengan Omzet Besar tapi Margin Kecil

Ini kondisi yang perlu diperhatikan.

Contohnya:

Produk A:

Sales:

Rp10 miliar.

Margin:

5%.

Gross Profit:

Rp500 juta.

Produk B:

Sales:

Rp4 miliar.

Margin:

25%.

Gross Profit:

Rp1 miliar.

Walaupun omzet Produk A 2,5 kali lebih besar, gross profit Produk B dua kali lebih tinggi.

Ini menunjukkan pentingnya melihat profit, bukan hanya revenue.


Produk dengan Margin Tinggi tapi Volume Rendah

Sebaliknya, perusahaan mungkin memiliki produk dengan:

  • Margin tinggi.
  • Volume rendah.

Produk tersebut tetap dapat menarik jika perusahaan dapat meningkatkan volume tanpa menurunkan margin terlalu besar.

Data ERP dapat membantu melihat kombinasi:

Volume + Margin

untuk mendukung strategi produk.


Contribution Analysis

Management dapat memetakan produk berdasarkan dua dimensi:

High Sales + High Margin

Produk strategis.

High Sales + Low Margin

Perlu evaluasi cost atau pricing.

Low Sales + High Margin

Potensi untuk dikembangkan.

Low Sales + Low Margin

Perlu dievaluasi apakah masih layak dipertahankan.

Analisis seperti ini membantu product portfolio management.


Margin dan Customer Discount

Sering kali margin turun bukan karena cost, tetapi karena commercial discount.

Contohnya:

Customer besar mendapatkan discount:

15%.

Sales volume memang tinggi.

Namun margin terlalu rendah.

Management perlu melihat apakah additional volume benar-benar menutup penurunan margin.


Jangan Langsung Naikkan Harga Sebelum Tahu Penyebab Margin Turun

Ketika margin turun, respons paling cepat biasanya:

“Naikkan harga.”

Namun kenaikan harga belum tentu menyelesaikan akar masalah.

Bisa saja masalah sebenarnya:

  • waste production meningkat

  • supplier price tidak terkontrol

  • landed cost melonjak

  • salah allocation cost

  • banyak discount

  • reject tinggi

Karena itu, sebelum mengubah pricing, telusuri komponen cost terlebih dahulu.


Cara Menelusuri Margin Produk yang Turun

1. Bandingkan Selling Price

Apakah harga jual berubah?


2. Periksa Discount

Apakah discount meningkat?


3. Periksa Purchase Price

Apakah harga supplier naik?


4. Periksa Landed Cost

Apakah freight, insurance, atau biaya lain meningkat?


5. Periksa Inventory Cost

Apakah average cost berubah?


6. Periksa Production Variance

Apakah actual material lebih tinggi?


7. Periksa Reject dan Waste

Apakah output good product berkurang?


8. Bandingkan Estimated vs Actual Margin

Cari komponen yang menyebabkan variance.


KPI yang Penting untuk Profitability

Gross Profit

Sales dikurangi HPP.

Gross Margin %

Gross Profit dibandingkan Revenue.

HPP per Unit

Cost setiap unit yang dijual.

Purchase Price Variance

Perubahan purchase cost terhadap baseline.

Landed Cost per Unit

Total cost sampai barang diterima.

Production Cost Variance

Perbedaan standard dan actual production cost.

Discount %

Besarnya discount terhadap selling price.

Margin per Customer

Profitability berdasarkan customer.

Margin per Product

Profitability berdasarkan produk.


Kesalahan Umum Saat Menghitung Margin

Menggunakan Purchase Price sebagai HPP

Padahal ada landed cost.

Menggunakan Cost Lama

Harga supplier sudah berubah.

Mengabaikan Waste

Actual material usage lebih tinggi dari BOM.

Tidak Menghitung Return

Sales terlihat tinggi tetapi banyak barang kembali.

Discount Tidak Masuk Analisis

List price digunakan padahal actual selling price lebih rendah.

Data Sales dan Accounting Berbeda

Masing-masing menggunakan sumber cost berbeda.


Profit Margin dan Closing Accounting

Setelah closing, accounting memiliki actual revenue dan actual HPP.

Management kemudian dapat melihat margin final.

Jika terdapat perbedaan besar dibandingkan margin saat Sales Order dibuat, variance tersebut perlu dianalisis.

Contohnya:

Expected Margin:

25%.

Actual Margin:

15%.

Pertanyaan berikutnya:

10% margin hilang di mana?

ERP membantu menyediakan transaksi pendukung untuk investigasi.


Bagaimana Venus ERP Membantu Analisis Profitability?

Venus ERP membantu menghubungkan proses Sales, Purchasing, Inventory, Production, Finance, dan Accounting.

Data yang terintegrasi dapat membantu perusahaan melihat hubungan antara:

Sales

Selling price, quantity, dan discount.

Purchasing

Purchase price dan supplier.

Inventory

Cost dan stock valuation.

Production

Material usage dan hasil produksi.

Account Receivable

Nilai invoice customer.

General Ledger

Revenue dan HPP.

Dengan data tersebut, perusahaan dapat membangun analisis margin sesuai struktur reporting yang dibutuhkan.


Contoh Alur Cost sampai Profit

Secara sederhana:

Purchase Price

↓

Additional / Landed Cost

↓

Inventory Cost

↓

Production Cost

↓

Finished Goods Cost

↓

Sales Delivery

↓

HPP

  •  

Sales Revenue

↓

Gross Profit

↓

Gross Margin

Semakin baik integrasi proses tersebut, semakin mudah perusahaan mengetahui sumber perubahan margin.


Kapan Perusahaan Perlu Mengevaluasi Profitability System?

Perusahaan perlu mulai mengevaluasi prosesnya ketika:

  • omzet naik tetapi profit tidak ikut naik

  • gross margin terus turun

  • sales menggunakan cost berbeda dari accounting

  • HPP baru diketahui setelah closing

  • purchasing price sering berubah

  • landed cost masih dihitung manual

  • production variance sulit diketahui

  • margin per produk tidak tersedia

  • margin per customer sulit dihitung

  • management hanya melihat sales report

Jika beberapa kondisi tersebut terjadi, perusahaan membutuhkan visibility cost yang lebih baik.


Kesimpulan

Harga jual yang tinggi tidak otomatis menghasilkan margin yang tinggi.

Profitability ditentukan oleh hubungan antara:

Selling Price dan Actual Cost.

Actual cost sendiri dapat dipengaruhi oleh:

  • purchase price

  • landed cost

  • inventory valuation

  • production cost

  • waste

  • reject

  • discount

  • return

Jika data tersebut berada di sistem yang berbeda, management akan sulit mengetahui kenapa margin berubah.

ERP membantu menghubungkan:

Purchasing → Inventory → Production → Sales → Accounting

sehingga HPP dan profit margin dapat dianalisis menggunakan data yang lebih konsisten.

Tujuannya bukan hanya mengetahui berapa besar penjualan.

Tetapi mengetahui:

produk mana yang benar-benar menghasilkan keuntungan bagi perusahaan.

Analisis HPP dan Margin dengan Venus ERP

Jika perusahaan Anda memiliki omzet besar tetapi masih sulit mengetahui margin aktual per produk, customer, atau transaksi, struktur data costing perlu dievaluasi.

Venus ERP membantu mengintegrasikan Purchasing, Inventory, Production, Sales, Finance, dan Accounting dalam satu sistem.

Dengan data yang saling terhubung, perusahaan dapat memperoleh visibility yang lebih baik terhadap HPP, gross profit, dan profit margin.

Hubungi PT Sinergi Teknologi Solusindo untuk konsultasi dan demo Venus ERP sesuai kebutuhan perusahaan Anda.

Penawaran Terbaik Venus ERP

Hubungi kami untuk penawaran terbaik dan dapatkan gratis demo dan konsultasi!
Baca artikel lainnya :