Banyak perusahaan menghitung nilai persediaan hanya berdasarkan harga beli barang.
Padahal biaya yang benar-benar dikeluarkan perusahaan sering kali lebih besar dari sekadar harga pada Purchase Order.
Ada biaya pengiriman.
Ada asuransi.
Ada bea masuk.
Ada handling.
Ada biaya pelabuhan.
Ada biaya forwarder.
Ada biaya lain yang muncul sampai barang benar-benar tiba di warehouse.
Jika biaya-biaya tersebut tidak ikut diperhitungkan, nilai persediaan dan Harga Pokok Penjualan atau HPP dapat menjadi tidak akurat.
Inilah alasan mengapa konsep Landed Cost menjadi penting dalam pengelolaan inventory dan accounting.
Dengan ERP, perusahaan dapat menghubungkan biaya pembelian dengan biaya tambahan sehingga nilai inventory dapat mencerminkan biaya aktual yang lebih lengkap.
Landed Cost adalah total biaya yang dikeluarkan perusahaan sampai barang tiba dan siap digunakan atau dijual.
Artinya, landed cost tidak hanya menghitung harga barang.
Secara sederhana:
Landed Cost = Harga Barang + Freight + Insurance + Duty + Handling + Biaya Tambahan Lain
Contohnya:
Harga barang:
Rp100.000.000
Freight:
Rp10.000.000
Insurance:
Rp2.000.000
Bea masuk:
Rp8.000.000
Handling:
Rp5.000.000
Total landed cost:
Rp125.000.000
Jika perusahaan hanya menggunakan harga beli Rp100 juta sebagai nilai inventory, terdapat Rp25 juta biaya yang belum dialokasikan.
Landed Cost memengaruhi beberapa hal.
Persediaan seharusnya mencerminkan biaya perolehan barang sesuai kebijakan accounting perusahaan.
Ketika barang dijual, HPP akan dipengaruhi oleh nilai inventory.
Jika HPP terlalu rendah, gross profit terlihat lebih tinggi dari kondisi sebenarnya.
Perusahaan dapat salah menentukan harga jual jika biaya barang tidak dihitung secara lengkap.
Margin per produk dapat terlihat bagus padahal sebenarnya tergerus oleh biaya logistik dan biaya impor.
Karena itu, landed cost bukan sekadar urusan purchasing.
Landed cost juga berkaitan langsung dengan finance dan accounting.
Misalnya perusahaan membeli:
1.000 unit Produk A.
Harga beli:
Rp100.000 per unit.
Total purchase:
Rp100.000.000.
Kemudian ada biaya:
Freight:
Rp10.000.000
Insurance:
Rp2.000.000
Handling:
Rp3.000.000
Total biaya tambahan:
Rp15.000.000.
Jika biaya tersebut tidak dialokasikan ke inventory, cost per unit tercatat:
Rp100.000
Padahal biaya aktual:
Rp115.000.000 ÷ 1.000
=
Rp115.000 per unit
Terdapat selisih:
Rp15.000 per unit
Jika perusahaan menjual barang dengan harga:
Rp130.000 per unit,
margin akan terlihat:
Rp30.000.
Padahal margin aktual:
Rp15.000.
Perbedaannya cukup besar.
Cost hanya menggunakan purchase price.
Biaya tambahan tidak masuk ke nilai inventory.
Akibatnya HPP terlihat lebih rendah.
Karena HPP terlalu rendah, margin terlihat lebih besar.
Management dapat mengira produk lebih profitable dari kondisi sebenarnya.
Sales atau management menentukan harga berdasarkan cost yang tidak lengkap.
Harga jual akhirnya terlalu rendah.
Dua supplier mungkin memiliki harga berbeda.
Supplier A lebih murah, tetapi freight lebih mahal.
Supplier B sedikit lebih mahal, tetapi biaya pengirimannya rendah.
Jika perusahaan hanya melihat harga PO, supplier A terlihat lebih murah.
Padahal total landed cost bisa lebih tinggi.
Misalnya perusahaan memiliki dua supplier.
Harga barang:
Rp90 juta.
Freight:
Rp20 juta.
Handling:
Rp5 juta.
Total:
Rp115 juta.
Harga barang:
Rp100 juta.
Freight:
Rp8 juta.
Handling:
Rp2 juta.
Total:
Rp110 juta.
Jika hanya melihat purchase price:
Supplier A terlihat lebih murah.
Jika melihat landed cost:
Supplier B justru lebih efisien.
Karena itu, evaluasi purchasing sebaiknya tidak selalu berhenti pada harga unit.
Komponen landed cost tergantung karakter transaksi perusahaan.
Beberapa contoh yang umum antara lain:
freight
shipping
insurance
customs duty
import duty
handling
port charges
forwarding fee
transportation
unloading
clearance fee
inspection fee
biaya tertentu lain yang terkait dengan perolehan barang
Perusahaan harus menentukan biaya mana yang dikapitalisasi sesuai kebijakan accounting dan standar yang digunakan.
Tidak semua biaya otomatis menjadi landed cost.
Secara umum, alurnya dapat berupa:
Purchase Order
↓
Goods Receipt
↓
Supplier Invoice
↓
Additional Cost
↓
Landed Cost Allocation
↓
Inventory Valuation
↓
COGS
↓
General Ledger
Biaya tambahan dialokasikan ke barang yang diterima menggunakan metode tertentu.
Landed Cost Allocation adalah proses membagikan biaya tambahan ke item atau transaksi inventory tertentu.
Contohnya:
Satu shipment memiliki:
Produk A
Produk B
Produk C
Total freight:
Rp30 juta.
Biaya tersebut perlu dibagikan ke ketiga produk.
Pertanyaannya:
dibagi berdasarkan apa?
ERP dapat menggunakan metode allocation sesuai kebutuhan sistem dan kebijakan perusahaan.
Beberapa metode yang umum digunakan antara lain:
Biaya dibagi berdasarkan jumlah unit.
Contohnya:
Produk A:
100 unit.
Produk B:
200 unit.
Produk B mendapatkan porsi biaya lebih besar karena jumlah unit lebih banyak.
Biaya dibagi berdasarkan nilai barang.
Barang dengan nilai lebih tinggi menerima porsi biaya lebih besar.
Cocok jika freight lebih banyak dipengaruhi berat barang.
Cocok pada pengiriman di mana kapasitas ruang menjadi faktor utama.
Perusahaan menentukan nilai tertentu untuk masing-masing item.
Metode yang digunakan harus mengikuti karakter biaya dan kebutuhan bisnis.
Misalnya perusahaan membeli:
Produk A:
Rp60 juta.
Produk B:
Rp40 juta.
Total purchase:
Rp100 juta.
Freight:
Rp10 juta.
Proporsi Produk A:
60%.
Maka freight untuk Produk A:
Rp6 juta.
Produk B:
40%.
Freight:
Rp4 juta.
Cost baru:
Produk A:
Rp66 juta.
Produk B:
Rp44 juta.
Total:
Rp110 juta.
Dengan demikian, nilai inventory lebih mencerminkan total biaya perolehan.
Misalnya:
Produk A:
100 unit.
Produk B:
300 unit.
Total:
400 unit.
Freight:
Rp20 juta.
Cost per unit freight:
Rp50.000.
Produk A mendapat:
Rp5 juta.
Produk B mendapat:
Rp15 juta.
Metode ini sederhana, tetapi belum tentu cocok untuk semua jenis biaya.
Bayangkan dua produk.
Produk A:
barang kecil tetapi mahal.
Produk B:
barang besar tetapi murah.
Jika freight sebenarnya lebih banyak dipengaruhi volume, tetapi perusahaan membagi berdasarkan nilai barang, hasil allocation bisa kurang representatif.
Karena itu, metode alokasi perlu disesuaikan dengan jenis biaya.
Landed Cost biasanya berkaitan dengan barang yang sudah diterima.
Goods Receipt memberikan informasi mengenai:
item
quantity
warehouse
purchase order
tanggal penerimaan
Biaya tambahan kemudian dapat dikaitkan dengan receipt tersebut.
Dengan hubungan transaksi yang jelas, perusahaan dapat mengetahui biaya tambahan berasal dari shipment atau receipt tertentu.
Tidak semua biaya berasal dari supplier barang yang sama.
Contohnya:
Barang dibeli dari Supplier A.
Freight ditagihkan oleh Logistics Company B.
Insurance ditagihkan oleh Company C.
Customs dibayar melalui pihak lain.
Jika sistem tidak terintegrasi, biaya-biaya tersebut dapat tercatat sebagai expense terpisah.
Padahal sebagian biaya mungkin perlu dialokasikan ke nilai inventory.
ERP membantu menghubungkan berbagai biaya tersebut dengan transaksi pembelian yang relevan.
Setelah landed cost dialokasikan, nilai inventory berubah.
Contohnya:
Sebelum landed cost:
Rp100 juta.
Setelah freight dan handling:
Rp120 juta.
Nilai inventory menjadi:
Rp120 juta
Ketika barang belum dijual, biaya tersebut masih berada pada inventory.
Ketika barang dijual, nilai tersebut akan berpengaruh pada HPP.
Landed cost sangat berkaitan dengan Harga Pokok Penjualan.
Contohnya:
Cost awal per unit:
Rp100.000.
Setelah landed cost:
Rp120.000.
Ketika produk terjual, HPP seharusnya menggunakan cost yang sesuai dengan metode valuation perusahaan.
Jika sistem masih menggunakan Rp100.000, maka HPP terlalu rendah.
Misalnya harga jual:
Rp150.000.
Tanpa landed cost:
HPP:
Rp100.000.
Gross Margin:
Rp50.000.
Setelah landed cost:
HPP:
Rp120.000.
Gross Margin:
Rp30.000.
Perbedaannya:
Rp20.000 per unit.
Jika terjual:
10.000 unit,
selisih margin:
Rp200 juta.
Inilah alasan mengapa landed cost sangat penting untuk analisis profitability.
Perusahaan sering menentukan harga berdasarkan cost plus margin.
Contohnya:
Target margin:
30%.
Jika cost dianggap:
Rp100.000,
harga mungkin dihitung berdasarkan angka tersebut.
Padahal actual cost:
Rp120.000.
Akibatnya target margin tidak tercapai.
Dengan cost yang lebih akurat, perusahaan dapat menentukan pricing dengan dasar yang lebih baik.
Landed cost sangat relevan untuk transaksi impor.
Karena harga barang hanya salah satu komponen biaya.
Perusahaan dapat mengeluarkan biaya seperti:
ocean freight
air freight
customs
import duty
insurance
port charge
trucking
clearance
forwarding
Jika biaya tersebut tidak dikaitkan dengan inventory, cost produk impor dapat terlihat jauh lebih rendah daripada kondisi sebenarnya.
Purchase Value:
Rp500 juta.
Freight:
Rp50 juta.
Insurance:
Rp10 juta.
Import Duty:
Rp40 juta.
Port & Handling:
Rp20 juta.
Total Landed Cost:
Rp620 juta
Tambahan biaya:
Rp120 juta.
Artinya biaya tambahan mencapai:
24% dari harga barang.
Jika perusahaan hanya menggunakan nilai Rp500 juta, margin produk akan terlihat sangat berbeda.
Landed cost bukan hanya untuk import.
Pembelian lokal juga dapat memiliki biaya tambahan.
Contohnya:
transport
trucking
loading
unloading
insurance
handling
Apakah biaya tersebut perlu dimasukkan ke inventory tergantung pada kebijakan accounting perusahaan.
Tidak semua biaya pembelian otomatis ditambahkan ke inventory.
Beberapa biaya mungkin dicatat sebagai operating expense.
Contohnya tergantung kebijakan perusahaan:
Biaya tertentu mungkin dikapitalisasi ke inventory.
Biaya lain langsung di-expense.
Karena itu, finance dan accounting harus menentukan treatment berdasarkan kebijakan dan standar accounting yang digunakan.
ERP membantu menjalankan konfigurasi tersebut.
Agar transaksi berjalan benar, ERP membutuhkan account mapping.
Contohnya:
Freight Clearing Account.
Custom Duty Account.
Inventory Account.
Account Payable.
Ketika allocation dilakukan, sistem dapat memindahkan nilai biaya ke akun inventory sesuai konfigurasi.
Struktur jurnal harus disesuaikan dengan desain accounting perusahaan.
Misalnya freight invoice:
Rp10 juta.
Awalnya dapat dicatat sebagai kewajiban kepada vendor freight.
Kemudian biaya dialokasikan ke inventory.
Secara konseptual, sistem dapat memindahkan nilai ke:
Inventory
dan akun clearing terkait.
Detail jurnal bergantung pada desain ERP dan kebijakan accounting perusahaan.
Karena itu, konfigurasi landed cost harus melibatkan tim accounting.
Satu shipment sering membawa banyak item.
Contohnya:
Item A
Item B
Item C
Item D
Semua menggunakan freight yang sama.
ERP membantu mengalokasikan biaya shipment ke setiap item.
Tanpa sistem yang baik, accounting sering melakukan calculation manual di Excel.
Semakin banyak item, semakin rumit perhitungannya.
Setiap user mungkin menggunakan formula sendiri.
Sulit mengetahui kenapa suatu item mendapat cost tertentu.
Data purchase harus disalin kembali ke spreadsheet.
Cost baru dihitung setelah akhir bulan.
Warehouse menggunakan purchase cost.
Accounting menggunakan landed cost manual.
Sales melihat margin berdasarkan cost lama.
Masalah landed cost sering terjadi karena data tersebar.
Purchasing mengetahui:
Purchase Price.
Logistics mengetahui:
Freight.
Finance mengetahui:
Invoice tambahan.
Accounting menghitung:
Inventory Cost.
Jika semua data berada di sistem berbeda, cost baru diketahui setelah digabungkan secara manual.
Dengan ERP, transaksi dapat memiliki hubungan yang lebih jelas.
Purchasing sebaiknya tidak hanya menganalisis:
Unit Price
Tetapi juga:
Total Cost of Acquisition
Contohnya:
Supplier A:
Harga lebih murah.
Lead time lebih lama.
Freight lebih tinggi.
Supplier B:
Harga sedikit lebih mahal.
Freight lebih rendah.
Dengan landed cost, purchasing dapat melakukan evaluasi supplier yang lebih lengkap.
Contohnya:
| Komponen | Supplier A | Supplier B |
|---|---|---|
| Purchase Price | Rp90 jt | Rp100 jt |
| Freight | Rp20 jt | Rp8 jt |
| Handling | Rp5 jt | Rp2 jt |
| Total Cost | Rp115 jt | Rp110 jt |
Jika hanya melihat Purchase Price, Supplier A menang.
Jika melihat total cost, Supplier B lebih efisien.
Ini menunjukkan pentingnya landed cost dalam procurement analysis.
Jika barang diterima di warehouse berbeda, biaya logistik juga dapat berbeda.
Contohnya:
Warehouse Jakarta.
Warehouse Surabaya.
Warehouse Medan.
Biaya trucking dan distribusi dapat berbeda.
Perusahaan dapat melakukan analisis apakah biaya tertentu masuk landed cost atau distribution expense sesuai kebijakan.
Pada bisnis tertentu, landed cost dapat berbeda per shipment atau batch.
Contohnya:
Batch Januari:
Freight murah.
Batch Februari:
Freight naik 30%.
Walaupun purchase price sama, cost batch dapat berbeda.
Jika perusahaan menggunakan batch-based tracking, perubahan cost dapat dianalisis dengan lebih detail.
Import juga sering menggunakan foreign currency.
Contohnya:
Purchase:
USD.
Freight:
USD.
Customs:
IDR.
Insurance:
USD.
Nilai landed cost akhirnya perlu dikonversi menggunakan rate sesuai aturan perusahaan.
Ini membuat perhitungan manual semakin kompleks.
ERP dapat membantu menyimpan referensi currency dan nilai transaksi berdasarkan konfigurasi yang digunakan.
Perubahan exchange rate dapat memengaruhi cost pembelian.
Contohnya:
Purchase Order dibuat saat USD:
Rp15.000.
Invoice diterima ketika:
Rp15.500.
Perusahaan perlu menentukan treatment selisih berdasarkan kebijakan accounting.
Ini berbeda dari landed cost, tetapi keduanya sama-sama memengaruhi total cost pembelian.
Jika landed cost belum selesai dialokasikan ketika closing, nilai inventory dapat belum final.
Accounting kemudian harus melakukan:
accrual
adjustment
allocation manual
reconciliation
Hal ini dapat memperlambat monthly closing.
Jika transaksi landed cost sudah terintegrasi sejak awal, accounting dapat mengurangi pekerjaan akhir periode.
Setelah landed cost masuk ke inventory, perusahaan dapat menganalisis margin produk dengan lebih realistis.
Contohnya:
Produk A:
Sales:
Rp2 miliar.
HPP berdasarkan landed cost:
Rp1,5 miliar.
Gross Profit:
Rp500 juta.
Tanpa landed cost, HPP mungkin hanya:
Rp1,3 miliar.
Gross Profit terlihat:
Rp700 juta.
Management dapat mengambil keputusan berbeda jika menggunakan cost yang tidak lengkap.
Jika HPP salah, dampaknya bukan hanya accounting.
Management dapat:
menentukan harga terlalu rendah
mempertahankan produk yang sebenarnya kurang profitable
memilih supplier yang salah
membuat forecast margin yang terlalu optimistis
salah mengevaluasi cabang atau customer
Karena itu, kualitas cost data memengaruhi kualitas keputusan bisnis.
Coba jawab beberapa pertanyaan berikut:
Apakah cost inventory hanya menggunakan purchase price?
Apakah freight dicatat sebagai expense terpisah tanpa analisis?
Apakah biaya impor dihitung manual di Excel?
Apakah accounting melakukan allocation hanya saat akhir bulan?
Apakah sales menggunakan cost yang berbeda dengan accounting?
Apakah margin produk sering berubah setelah closing?
Apakah supplier dibandingkan hanya berdasarkan unit price?
Apakah sulit mengetahui total biaya per shipment?
Jika banyak jawabannya ya, proses costing perusahaan perlu dievaluasi.
Jangan hanya melihat Purchase Order.
Petakan seluruh biaya sampai barang tiba.
Tentukan biaya yang:
dikapitalisasi
di-expense
sesuai kebijakan perusahaan.
Gunakan metode yang paling relevan:
quantity
value
weight
volume
manual
Pastikan landed cost memiliki referensi penerimaan barang.
Cost baru harus tercermin pada valuation sesuai konfigurasi perusahaan.
Pastikan cost yang digunakan pada penjualan sesuai dengan metode inventory valuation.
Pastikan nilai inventory dan accounting konsisten.
ERP membantu menghubungkan beberapa proses.
Menyediakan nilai Purchase Order.
Menunjukkan item dan quantity yang diterima.
Mencatat invoice biaya tambahan.
Mengalokasikan biaya ke inventory sesuai metode.
Memperbarui nilai persediaan.
Menggunakan cost yang lebih akurat untuk analisis margin.
Mencatat dampak transaksi ke General Ledger.
Dengan integrasi tersebut, perusahaan tidak perlu membangun seluruh costing melalui spreadsheet terpisah.
Dalam implementasi ERP, pengelolaan landed cost idealnya terhubung dengan:
Purchasing
Goods Receipt
Inventory
Account Payable
Finance
General Ledger
Konfigurasi aktual tetap perlu disesuaikan dengan proses bisnis dan treatment accounting perusahaan.
Dengan pendekatan terintegrasi, perusahaan dapat memiliki visibility yang lebih baik terhadap total biaya perolehan barang dan dampaknya terhadap inventory maupun HPP.
Kesalahan umum dalam procurement adalah terlalu fokus pada:
“Supplier mana yang paling murah?”
Padahal pertanyaan yang lebih tepat adalah:
“Supplier mana yang memberikan total cost terbaik sampai barang siap digunakan?”
Perbedaannya cukup besar.
Harga beli hanya satu komponen.
Landed cost memberikan gambaran yang lebih lengkap.
HPP yang akurat dimulai dari cost inventory yang akurat.
Jika perusahaan hanya menggunakan purchase price tanpa mempertimbangkan biaya tambahan yang relevan, nilai inventory dan margin dapat terlihat berbeda dari kondisi sebenarnya.
Landed cost membantu perusahaan memasukkan biaya seperti:
freight
insurance
duty
handling
forwarding
biaya tambahan lain
ke dalam perhitungan total cost sesuai kebijakan accounting.
Dengan ERP, proses tersebut dapat dihubungkan dari:
Purchase Order → Goods Receipt → Additional Cost → Inventory → COGS → General Ledger
Hasilnya, perusahaan dapat memperoleh informasi cost yang lebih konsisten untuk purchasing, sales, finance, accounting, dan management.
Jika perusahaan masih menghitung freight, bea masuk, handling, dan biaya tambahan melalui banyak spreadsheet, nilai inventory dan HPP dapat sulit direkonsiliasi.
Venus ERP membantu mengintegrasikan Purchasing, Inventory, Account Payable, Finance, dan Accounting dalam satu sistem.
Dengan proses yang terstruktur, perusahaan dapat membangun perhitungan cost dan margin yang lebih konsisten sesuai kebutuhan bisnis.
Hubungi PT Sinergi Teknologi Solusindo untuk konsultasi dan demo Venus ERP.