sinergi software erp

Penjualan meningkat belum tentu berarti kondisi cash flow perusahaan ikut membaik.

Jika sebagian besar transaksi dilakukan secara kredit, perusahaan harus memastikan piutang customer dapat dipantau dan ditagih tepat waktu.

Masalah mulai muncul ketika perusahaan memiliki banyak customer, invoice, termin pembayaran, cabang, dan transaksi.

Tim finance harus mengetahui:

  • invoice mana yang belum dibayar

  • berapa total outstanding setiap customer

  • kapan invoice jatuh tempo

  • invoice mana yang sudah lewat jatuh tempo

  • pembayaran customer digunakan untuk invoice yang mana

  • berapa umur piutang

  • customer mana yang memiliki saldo piutang terbesar

Jika semua informasi tersebut masih dikelola melalui spreadsheet atau pencatatan terpisah, pengelolaan piutang dapat menjadi semakin kompleks.

Karena itu, modul Account Receivable dalam ERP menjadi bagian penting dari pengelolaan keuangan perusahaan.


Apa Itu Account Receivable?

Account Receivable atau AR adalah piutang perusahaan yang timbul karena penjualan barang atau jasa kepada customer secara kredit.

Contohnya:

PT ABC membeli produk senilai Rp100 juta dengan termin pembayaran 30 hari.

Barang dikirim hari ini, tetapi customer baru akan melakukan pembayaran maksimal 30 hari kemudian.

Selama pembayaran belum diterima, Rp100 juta tersebut menjadi Account Receivable perusahaan.

Secara sederhana:

Penjualan Kredit → Invoice → Account Receivable → Pembayaran Customer → Piutang Selesai


Mengapa Account Receivable Penting?

Piutang merupakan salah satu bagian penting dalam cash flow.

Perusahaan dapat memiliki nilai penjualan yang besar, tetapi jika pembayaran customer terlambat, perusahaan tetap dapat mengalami masalah likuiditas.

Contohnya:

Penjualan bulan ini:

Rp5 miliar

Tetapi pembayaran yang sudah diterima:

Rp2 miliar

Berarti masih terdapat sekitar:

Rp3 miliar outstanding receivable

Perusahaan perlu mengetahui kapan Rp3 miliar tersebut diperkirakan masuk.

Informasi AR membantu finance dan manajemen memahami kondisi pembayaran customer.


Apa Masalah Jika Account Receivable Masih Dikelola Manual?

1. Sulit Mengetahui Invoice yang Belum Dibayar

Jika perusahaan memiliki ratusan invoice, finance harus memeriksa satu per satu invoice dan pembayaran customer.

Semakin besar volume transaksi, semakin sulit memastikan semua invoice sudah tercatat dengan benar.


2. Invoice Jatuh Tempo Terlewat

Customer memiliki termin pembayaran berbeda.

Contohnya:

Customer A: 14 hari
Customer B: 30 hari
Customer C: 45 hari
Customer D: 60 hari

Tanpa sistem yang terstruktur, finance harus menghitung dan memantau jatuh tempo secara manual.

Akibatnya, proses penagihan dapat terlambat.


3. Pembayaran Sulit Dicocokkan dengan Invoice

Satu customer dapat memiliki beberapa invoice.

Contohnya:

Invoice 001 = Rp50 juta
Invoice 002 = Rp30 juta
Invoice 003 = Rp40 juta

Customer kemudian membayar Rp80 juta.

Finance perlu mengetahui pembayaran tersebut digunakan untuk melunasi invoice mana.

Jika dilakukan manual, proses rekonsiliasi menjadi lebih lama.


4. Sulit Melihat Umur Piutang

Manajemen biasanya membutuhkan laporan seperti:

  • belum jatuh tempo

  • 1–30 hari overdue

  • 31–60 hari overdue

  • 61–90 hari overdue

  • lebih dari 90 hari overdue

Jika data tersebar di berbagai file, laporan tersebut harus dibuat secara manual.


5. Tidak Ada Informasi Outstanding Secara Cepat

Sales mungkin bertanya:

“Customer PT ABC masih punya piutang berapa?”

Finance kemudian harus mencari invoice dan pembayaran terlebih dahulu.

Jika menggunakan sistem ERP, informasi tersebut dapat dilihat dari transaksi AR.


Bagaimana Account Receivable Bekerja di ERP?

Secara umum, alur Account Receivable dalam ERP dimulai dari transaksi penjualan.

Contohnya:

Sales Order

↓

Delivery Order

↓

Sales Invoice

↓

Account Receivable

↓

Customer Payment

↓

Settlement

↓

General Ledger

Ketika invoice dibuat, sistem mencatat piutang customer.

Ketika pembayaran diterima, pembayaran dapat dialokasikan ke invoice terkait.

Outstanding kemudian berkurang.


Contoh Proses Account Receivable

Misalnya PT ABC membeli barang sebesar:

Rp120.000.000

Termin pembayaran:

30 hari

Tahap 1 — Invoice Dibuat

Invoice:

INV-2026-00125

Invoice Date:

1 Oktober 2026

Due Date:

31 Oktober 2026

Amount:

Rp120.000.000

Setelah invoice diposting, sistem mencatat Account Receivable sebesar Rp120 juta.


Tahap 2 — Jurnal Otomatis Terbentuk

Sistem dapat membentuk jurnal:

Debit Account Receivable Rp120.000.000

Credit Sales Revenue Rp120.000.000

Jika terdapat pajak, jurnal akan mengikuti konfigurasi perusahaan.


Tahap 3 — Customer Melakukan Pembayaran Sebagian

Pada 15 Oktober customer membayar:

Rp70.000.000

Finance mencatat pembayaran.

Outstanding menjadi:

Rp50.000.000


Tahap 4 — Customer Melunasi Sisa Invoice

Pada 25 Oktober customer membayar:

Rp50.000.000

Setelah pembayaran dialokasikan, outstanding invoice menjadi:

Rp0

Invoice dianggap selesai atau settled.


Apa Itu Outstanding Receivable?

Outstanding Receivable adalah jumlah piutang yang masih belum dibayar oleh customer.

Rumus sederhananya:

Nilai Invoice – Pembayaran = Outstanding

Contoh:

Invoice: Rp100 juta

Pembayaran: Rp60 juta

Outstanding:

Rp40 juta

Informasi outstanding sangat penting untuk monitoring cash flow dan aktivitas collection.


Apa Itu AR Aging?

AR Aging adalah laporan yang mengelompokkan piutang berdasarkan umur atau keterlambatan pembayaran.

Contohnya:

CustomerCurrent1–30 Hari31–60 Hari61–90 Hari>90 Hari
PT ABCRp50 jtRp20 jt–––
PT XYZ–Rp30 jtRp15 jt––
PT DEF–––Rp40 jtRp25 jt

Dari laporan tersebut, finance dapat melihat customer mana yang memiliki piutang lama.

Semakin lama umur piutang, semakin besar perhatian yang biasanya dibutuhkan.


Mengapa AR Aging Penting?

AR Aging membantu perusahaan menentukan prioritas collection.

Misalnya:

Customer A memiliki invoice Rp20 juta yang baru jatuh tempo 3 hari.

Customer B memiliki invoice Rp100 juta yang sudah overdue 90 hari.

Finance tentu dapat memberikan prioritas lebih tinggi pada Customer B.

Dengan aging report, perusahaan tidak hanya mengetahui total piutang tetapi juga kualitas piutang tersebut.


Apa Itu Credit Term?

Credit Term adalah jangka waktu yang diberikan kepada customer untuk membayar invoice.

Contohnya:

  • Cash

  • Net 7

  • Net 14

  • Net 30

  • Net 45

  • Net 60

Customer dengan Net 30 memiliki waktu 30 hari sejak tanggal yang ditentukan perusahaan untuk melakukan pembayaran.

ERP dapat membantu menyimpan informasi credit term dalam master customer.

Ketika invoice dibuat, due date dapat dihitung berdasarkan aturan tersebut.


Apa Itu Credit Limit?

Selain credit term, perusahaan juga dapat menggunakan credit limit.

Credit limit menentukan batas maksimal kredit yang dapat diberikan kepada customer.

Contohnya:

Credit Limit PT ABC:

Rp500 juta

Outstanding saat ini:

Rp450 juta

Customer membuat order baru:

Rp100 juta

Jika transaksi baru diproses, total exposure menjadi:

Rp550 juta

Artinya melebihi credit limit.

Dalam sistem ERP, kondisi seperti ini dapat digunakan sebagai dasar warning, kontrol, atau approval sesuai kebijakan perusahaan.


Manfaat Credit Limit bagi Perusahaan

Credit limit membantu mengurangi risiko perusahaan memberikan kredit terlalu besar kepada satu customer.

Tanpa kontrol credit limit, sales dapat terus membuat transaksi meskipun customer memiliki banyak invoice yang belum dibayar.

Hal ini dapat meningkatkan risiko piutang tidak tertagih.


Account Receivable dan Sales Harus Terintegrasi

Pengelolaan piutang tidak hanya menjadi tanggung jawab finance.

Sales juga membutuhkan informasi mengenai kondisi customer.

Contohnya:

Sales ingin membuat order baru kepada Customer A.

Sebelum order disetujui, perusahaan mungkin ingin melihat:

  • outstanding receivable

  • invoice overdue

  • credit limit

  • histori pembayaran

Dengan ERP, informasi penjualan dan AR dapat saling terhubung.

Ini membantu perusahaan membuat keputusan kredit dengan lebih baik.


Account Receivable dan Cash Flow

Piutang memiliki hubungan langsung dengan cash flow.

Jika customer membayar tepat waktu, perusahaan memiliki dana untuk:

  • membayar supplier

  • membayar payroll

  • membeli inventory

  • menjalankan operasional

  • melakukan investasi

Sebaliknya, jika banyak invoice terlambat dibayar, perusahaan dapat mengalami tekanan cash flow meskipun penjualan terlihat tinggi.

Karena itu, monitoring AR sebaiknya tidak hanya dilakukan pada akhir bulan.

Perusahaan perlu melakukan pemantauan secara berkala.


KPI yang Penting dalam Account Receivable

1. Total Outstanding AR

Menunjukkan seluruh piutang yang belum dibayar.


2. Overdue Receivable

Menunjukkan piutang yang sudah melewati due date.


3. AR Aging

Menunjukkan distribusi umur piutang.


4. Days Sales Outstanding

DSO digunakan untuk membantu melihat rata-rata waktu yang dibutuhkan perusahaan untuk mengumpulkan piutang.

Nilai DSO yang semakin tinggi dapat menunjukkan bahwa pembayaran customer membutuhkan waktu lebih lama.

Namun, interpretasinya tetap perlu dibandingkan dengan credit term dan karakteristik industri perusahaan.


5. Collection Rate

Mengukur seberapa besar piutang yang berhasil dikumpulkan dalam periode tertentu.


Bagaimana ERP Membantu Mengelola Account Receivable?

Invoice Terhubung dengan Customer

Setiap invoice terhubung langsung dengan master customer.

Finance dapat melihat histori transaksi berdasarkan customer.


Due Date Otomatis

Due date dapat dihitung berdasarkan credit term.


Outstanding Lebih Mudah Dipantau

Sistem dapat menunjukkan invoice yang belum dibayar dan sisa outstanding.


Payment Allocation

Pembayaran customer dapat dialokasikan ke invoice terkait.


Aging Report

Perusahaan dapat melihat umur piutang berdasarkan kelompok waktu.


Customer History

Finance dapat melihat histori invoice dan pembayaran customer.


Integrasi dengan General Ledger

Transaksi AR dapat membentuk jurnal accounting berdasarkan konfigurasi sistem.


Contoh Alur AR Terintegrasi

Misalnya perusahaan menjual produk sebesar Rp200 juta.

Sales Order

Customer melakukan pemesanan.

Delivery Order

Barang dikirim.

Invoice

Finance menerbitkan invoice.

Account Receivable

Piutang sebesar Rp200 juta terbentuk.

Customer Payment

Customer membayar Rp150 juta.

Outstanding

Sisa piutang:

Rp50 juta.

Settlement

Customer membayar sisa Rp50 juta.

General Ledger

Seluruh transaksi masuk ke accounting.

Dengan satu rangkaian transaksi, perusahaan memiliki hubungan data dari sales hingga accounting.


Apa Itu Settlement dalam Account Receivable?

Settlement adalah proses mencocokkan pembayaran dengan invoice.

Contohnya:

Customer melakukan pembayaran:

Rp100 juta

Pembayaran tersebut digunakan untuk:

Invoice A: Rp40 juta
Invoice B: Rp35 juta
Invoice C: Rp25 juta

Setelah settlement, ketiga invoice dianggap lunas.

Tanpa proses settlement yang jelas, perusahaan mungkin mengetahui uang sudah diterima tetapi tidak mengetahui invoice mana yang sudah dibayar.


Bagaimana Jika Customer Membayar Sebagian?

ERP juga dapat mendukung pembayaran parsial.

Contohnya:

Invoice:

Rp100 juta

Pembayaran pertama:

Rp60 juta

Outstanding:

Rp40 juta

Invoice tetap terbuka hingga sisa pembayaran diterima atau dilakukan proses lain sesuai kebijakan perusahaan.


Bagaimana Jika Customer Membayar Lebih?

Ada juga kondisi customer melakukan overpayment.

Contohnya:

Invoice:

Rp95 juta

Pembayaran:

Rp100 juta

Terdapat kelebihan:

Rp5 juta

Kelebihan tersebut dapat ditangani sesuai kebijakan perusahaan, misalnya menjadi unapplied payment atau digunakan untuk transaksi berikutnya.

Mekanisme pastinya bergantung pada sistem dan kebijakan accounting perusahaan.


Masalah Account Receivable yang Sering Terjadi

Invoice Tidak Dikirim Tepat Waktu

Semakin lambat invoice dikirim, semakin lambat kemungkinan pembayaran diterima.


Due Date Tidak Dipantau

Invoice overdue baru diketahui setelah terlalu lama.


Data Pembayaran Tidak Terupdate

Customer sudah membayar tetapi outstanding masih muncul karena payment belum dicatat.


Banyak Invoice Lama

Jika invoice lama terus menumpuk, risiko collection menjadi lebih besar.


Tidak Ada Customer Credit Control

Sales terus membuat order meskipun customer memiliki outstanding tinggi.


Cara Mengelola Piutang Customer agar Tidak Menumpuk

1. Tentukan Credit Term dengan Jelas

Setiap customer sebaiknya memiliki aturan pembayaran yang jelas.


2. Monitor Aging Secara Rutin

Jangan menunggu akhir bulan.

Finance dapat melakukan review aging setiap minggu atau sesuai kebutuhan.


3. Prioritaskan Invoice Overdue

Fokuskan collection pada invoice yang sudah melewati jatuh tempo.


4. Gunakan Credit Limit

Batasi exposure kredit customer berdasarkan kebijakan perusahaan.


5. Integrasikan Sales dan Finance

Sales perlu mengetahui jika customer memiliki outstanding yang bermasalah.


6. Pastikan Payment Segera Dicatat

Pembayaran yang sudah diterima harus segera dialokasikan agar data outstanding tetap akurat.


7. Gunakan Sistem Terintegrasi

Semakin besar transaksi, semakin sulit mengelola AR menggunakan spreadsheet terpisah.

ERP membantu memastikan invoice, payment, settlement, dan accounting menggunakan sumber data yang sama.


Venus ERP untuk Pengelolaan Account Receivable

Venus ERP membantu perusahaan mengelola transaksi Account Receivable secara terintegrasi dengan proses bisnis lainnya.

Pengelolaan dapat mencakup:

Customer Management

Kelola master customer dan informasi transaksi terkait.

Sales Invoice

Kelola invoice berdasarkan transaksi penjualan.

Account Receivable

Pantau nilai piutang dan outstanding customer.

Payment

Catat penerimaan pembayaran customer.

Settlement

Hubungkan pembayaran dengan invoice terkait.

AR History

Telusuri histori transaksi piutang customer.

General Ledger Integration

Transaksi AR dapat terhubung dengan pencatatan accounting.

Reporting

Gunakan data AR sebagai dasar monitoring dan evaluasi piutang.


Account Receivable Bukan Hanya Urusan Finance

AR sebenarnya mencerminkan hubungan antara beberapa fungsi perusahaan.

Sales

membuat transaksi dengan customer.

Warehouse

mengirim barang.

Finance

membuat invoice dan menerima pembayaran.

Accounting

mencatat transaksi.

Management

memantau cash flow dan risiko.

Karena itu, Account Receivable akan lebih efektif jika dikelola dalam sistem yang terintegrasi.


Kesimpulan

Account Receivable merupakan bagian penting dalam pengelolaan cash flow perusahaan.

Perusahaan tidak cukup hanya mengetahui berapa besar total penjualan.

Perusahaan juga perlu mengetahui:

  • berapa invoice yang belum dibayar

  • berapa outstanding customer

  • kapan invoice jatuh tempo

  • berapa piutang overdue

  • bagaimana umur piutang

  • pembayaran digunakan untuk invoice mana

  • customer mana yang memiliki risiko lebih tinggi

Dengan sistem ERP, proses Account Receivable dapat terhubung dengan sales, invoice, payment, settlement, dan accounting.

Hal ini membantu perusahaan mengurangi pekerjaan manual dan mendapatkan informasi piutang yang lebih terstruktur.

Kelola Piutang Customer dengan Venus ERP

Jika perusahaan masih mengelola invoice, pembayaran, dan outstanding customer menggunakan spreadsheet atau sistem terpisah, proses tersebut dapat semakin kompleks ketika jumlah transaksi bertambah.

Venus ERP membantu mengintegrasikan Sales, Account Receivable, Payment, Finance, dan General Ledger dalam satu sistem.

Hubungi PT Sinergi Teknologi Solusindo untuk konsultasi dan demo Venus ERP sesuai kebutuhan perusahaan Anda.

venus erp

Penawaran Terbaik Venus ERP

Hubungi kami untuk penawaran terbaik dan dapatkan gratis demo dan konsultasi!
Baca artikel lainnya :